16/05/2026
Kethoprak Suluh Budaya di desa Boro sudah 40 tahun tidak pernah pentas. Pada 1980an, sebagian besar anggotanya pergi bertransmigrasi, dan tak pernah ada regenerasi. Dusun Boro juga menjadi lebih senyap, sering mas Greg bilang, warga Boro beberapa waktu merasa tidak ada apa2 yang bisa menjadi identitas Boro.
Tahun lalu, Biennale Jogja berproses di Boro selama beberapa bulan. Kami melihat langsung peran penting Greg dan Vani dalam membangun kerja kebudayaan di desa untuk membentuk imajinasi warga. Membuat kelompok karawitan, mengajak ibu2 menari, anak-anak kecil terlibat dalam berbagai workshop, dan sebagainya. Pergelaran Kawruh Babak I di Boro adalah kesempatan belajar yang sangat berharga untuk kami semua melihat bagaimana dinamika sebuah desa pinggiran dalam mewujudkan kedaulatan pengetahuan. Apalagi, perjalanan menuju Boro selalu jadi pemandangan indah; sawah, burung, pantai, pohon kelapa yang berjajar.
Dua malam lalu, kami kembali ke boro setelah beberapa bulan. Mas Greg sudah menghidupkan lagi kethoprak Suluh Budaya. Ini pentas pertama setelah 40 tahun! Sungguh, saya sampai merinding berada di tengah seluruh peristiwa ini. Warga masih menyapa dengan hangat. “Mbak Biennale datang!” kata mereka. 😅😅😅
Menikmati panggung sederhana yang digarap warga bersama pak teguh, alunan lagu dan gamelan yang menentramkan, makanan lokal yang kami bagi untuk semua.
Para simbah terlihat sangat antusias. Berkumpul di depan panggung dengan wajah yang sumringah. Anak-anak maju ke depan terutama pada adegan perang. Bagi generasi tua, sudah tentu ada perasaan nostalgia dan ingatan bersama.
Selamat mas Greg dan Mbak Vani. Semoga semangatnya terus terjaga.