24/09/2024
Negeri ini punya ratusan perguruan tinggi dan ribuan ilmuwan yang begitu sibuk menjajakan teori dari ilmuwan asing. Lupa bahwa tugas mereka bukan sekadar mengutip, tapi juga memproduksi pengetahuan baru yang lahir dari realitas di tanah mereka sendiri. Ada p**a yang puas jadi ilmuan penyuplai data—data yang nantinya akan diolah menjadi teori oleh ilmuwan di luar sana. Mereka berdiri di depan kelas, di atas podium, mengutip dengan bangga teori orang lain, seolah tidak ada ilmu yang bisa digali dari bumi tempat mereka berpijak.
Sayangnya ini bukan hanya masalah yang mendera para akademisi. Di desa-desa sentra pertanian pun lazimnya orang yang bertani hanya menjadi produsen bahan baku, menyerahkan hasil jerih payah mereka kepada tengkulak atau perusahaan yang kemudian menikmati keuntungan dari pengolahan lanjut produk mereka.
Pun di dunia tambang: seolah pernah ada angin segar dengan kebijakan hilirisasi yang melarang ekspor bahan mentah, memaksa pengolahan dilakukan di dalam negeri. Sihir hilirisasi ini berujung kemunculan pabrik-pabrik pengolahan bahan tambang milik investor dan berpekerja asing. Mereka yang menikmati nilai tambah, sementara warga lokal menenggak polusi, kerusakan lingkungan, dan kenyataan perlindungan negara yang lebih peduli pada mereka yang punya modal ketimbang pada warganya sendiri.
Masalah seperti ini ada di mana-mana. Pendidikan, pertanian, tambang—semuanya mencerminkan keadaan yang sama: kita selalu menjadi pengirim bahan mentah, baik itu data, hasil tani, atau sumber daya alam. Di tengah segala keruwetan ini, rasanya ingin menyerah, bukan?
Tapi sebelum kita benar-benar menyerah pada nasib, ada baiknya kita berhenti sejenak. Mari duduk, bicara, dan minum teh bersama. Yuk, kita bertemu di Pasar Setupon , di Kedai Teh Umran .id mulai jam 9 pagi, tanggal 28 September nanti. Siapa tahu, dari secangkir teh, kita bisa menemukan masalah-masalah baru. Ingat prinsip permakultur di buku lansiran .pub ; masalah adalah solusi.