16/06/2026
Kecemburuanku pada Nalar Negara Kafir yang Madani
Di sini, di tanah tempat menara-menara menjulang egois memperdebatkan kavling surga, aku berdiri dalam kekhusyukan yang retak. Di negaraku, dogma adalah mata uang, dan kesucian adalah komoditas yang paling laris diperjualbelikan di pasar-pasar politik. Kami berpakaian jubah kesalehan, mengunyah teks-teks kuno dengan fasih, namun memuntahkannya kembali dalam bentuk penghakiman, kebencian dan darah sesama yang tumpah atas nama pembelaan kekudusan.
Lalu, dalam sunyi kesadaranku yang paling sarkastis, aku melemparkan pandang melintasi batas samudra. Menatap belahan bumi yang setiap hari kami kutuk dalam khotbah-khotbah jumawa sebagai "tanah kafir yang dikutuk Tuhan."
Dan di sanalah, kecemburuanku lahir bagai belati yang menusuk ulu hati nalar.
Aku menatap ke utara, pada garis pantai Skandinavia dan bentang Eropa yang dingin.
Ke tanah Islandia, Norwegia dan negeri-negeri yang telah mematikan lonceng teokrasi.
Di sana, di mana altar gereja mulai sepi dan manusia memilih bersujud pada nalar kemanusiaan, keadilan justru mengalir deras bagai air sungai yang tak pernah kering.
Mereka menepis tangan Tuhan dari konstitusi,
namun anehnya, jemari hukum mereka justru bekerja paling jujur memeluk orang-orang miskin dan terasing.
Secara epistemologis, teater kesadaran di kedua belahan dunia ini menyajikan sebuah anomali moral yang akut. Di negaraku yang mengklaim diri sebagai representasi otoritas langit, terjadi pembusukan struktural yang masif. Korupsi bukan lagi deviasi perilaku individual, melainkan telah bermutasi menjadi patologi sistemik yang ironisnya dipelihara di balik ritus-ritus kesalehan formal.
Ada kontradiksi sosiologis yang menggelisahkan : bagaimana mungkin sebuah ruang publik yang meluap dengan diskursus ketuhanan dan pengawasan moralitas yang ketat, justru menjadi inkubator bagi penjarahan hak-hak publik? Di sini, transaksionalisme politik berpura-pura memakai jubah teologis, anggaran negara dikorupsi oleh jemari yang beberapa menit sebelumnya basah oleh air wudu atau tenggelam dalam doa-doa panjang. Etika publik mengalami kelumpuhan total karena nilai kesucian diadili hanya berdasarkan simbol, bukan pada integritas tindakan.
Sementara itu, di seberang samudra, di atas tanah-tanah sekuler yang kerap dituduh mengalami degradasi spiritual, etika profan justru tegak dengan kokohnya. Tanpa bersandar pada instrumen metafisika, seperti eskatologi pahala dan siksa, mereka berhasil mengonstruksi sebuah tatanan sosial dengan tingkat transparansi dan integritas yang mendekati absolut.
Kesadaran anti-korupsi di sana tidak lahir dari doktrin kepatuhan buta, melainkan dari kedewasaan nalar atas social contract (kontrak sosial). Mereka memahami bahwa korupsi adalah tindakan bunuh diri kebudayaan yang merusak keadilan distributif. Ketika birokrasi mereka bersih dan hak warga negara terpenuhi tanpa pelicin, mereka sedang mempraktikkan substansi terdalam dari keadilan universal, sebuah nilai yang di negaraku hanya berakhir menjadi barisan teks mati di lembar-lembar kitab suci yang berdebu.
Aku cemburu pada nalar sekuler mereka yang dingin namun memanusiakan. Mereka yang mengusir dogma dari ruang sidang dan memensiunkan teologi dari urusan birokrasi, justru berhasil membangun peradaban yang madani. Sebuah tatanan yang tegak bukan karena takut pada cambuk neraka, melainkan karena mereka paham esensi dari struktur sosial : bahwa manusia adalah suci bagi manusia lainnya.
Di bawah payung teokrasi kami yang pengap, kami hidup dalam ketakutan yang akut. Kami mengaku paling dekat dengan Tuhan, tetapi menjadi makhluk yang paling berbahaya bagi ciptaan-Nya. Kami sibuk mengukur moralitas dari selembar kain dan panjangnya janggut, sementara korupsi, ketidakadilan dan pembungkaman nalar terjadi di depan mata, diberkati oleh doa-doa kaum oportunis.
Aku cemburu pada keteraturan yang lahir dari rahim sekularisme yang mereka sebut "sesat" itu. Jika ketakberpautan pada agama mampu melahirkan manusia-manusia yang adil, jujur, dan bersih dari laku culas, maka ada yang salah dengan cara kami mengartikan Tuhan selama ini.
Kecemburuanku adalah sebuah gugatan. Sebuah tamparan bagi kesadaran teologis kami yang tertidur dalam keangkuhan spiritual. Menatap mereka yang kafir namun madani, aku menyadari satu hal yang paling menyakitkan, mereka tidak butuh konsep surga untuk menciptakan kedamaian dan kebersihan di bumi, sedangkan kita, yang merasa memegang saham akhirat, justru sibuk menciptakan neraka dunia bagi saudara sendiri lewat ketamakan yang dibungkus do'a.
source: Iwang Sura