01/09/2017
Oleh-oleh khutbah ldul Adha
*TAHUKAH KITA?*
• Idul Adha adalah tentang Nabi Ibrahim. Seorang nabi yang selama bertahun-tahun tidak diberi keturunan.
* Silahkan bertanya kepada pasangan suami istri yang tak kunjung punya momongan. Bagaimana rasanya, bagaimana sedihnya. Saya yakin, rasa sakitnya tak terperikan.
• Lantas, saat akhirnya diberi keturunan, tiba-tiba Allah meminta sang anak untuk disembelih.
* Bapak... ibu..., apa yang anda rasakan jika anda diminta menyembelih anak kesayangan anda? Apakah akan anda lakukan, atau anda akan menentangnya?
• Jujur sajalah. Jangankan menyembelih anak. Jangankan menyerahkan anak kesayangan kepada Allah. Kita ini disuruh zakat saja berat. Disuruh sedekah saja kebanyakan alasan. Disuruh meninggalkan riba yang jelas-jelas diperangi Allah saja bisa melawan.
• Kita bahkan berani kok bilang kalau enggak KPR mana bisa punya rumah. Kalau enggak leasing mana bisa beli mobil. Seolah-olah bank memiliki kekuasan yang lebih besar dari Tuhan yang menciptakan dan memiliki seluruh alam semesta ini.
• Dan Ibrahim, secinta apa pun dia kepada anaknya, tapi ketaatannya kepada Allah tak tergantikan. Maka saat Allah memintanya menyembelih Ismail, Ibrahim melakukannya.
• Idul Adha, adalah tentang Siti Hajar. Seorang istri yang diajak berjalan jauh di hamparan pasir gersang yang panasnya enggak ketulungan.
• Setelah sampai di satu lembah mereka berhenti. Lalu suaminya berkata, kurang lebihnya begini :
• Aku tinggalkan engkau di sini wahai istriku. Apa pun yang terjadi janganlah engkau meninggalkan lembah ini.
• Kemudian suaminya pergi. Tidak meninggalkan apa-apa. Tidak meninggalkan uang, atm, kartu kredit, mobil utangan, apalagi rumah kpr.
• Siti Hajar bertanya kepada suaminya. Engkau mau kemana? Pertanyaan itu dia ulang hingga tiga kali, tapi ia hanya mendapat sepi. Suaminya diam seribu bahasa.
• Baru saat sang istri bertanya: apakah ini perintah dari Allah? Ibrahim menjawab : iya. Sesungguhnya Allah yang memerintahku.
• Taukah engkau apa jawaban bunda hajar?
• Baiklah, jika ini perintah dari Allah. Pergilah suamiku. Jangan risaukan kami. Allah pasti akan mencukupi kebutuhan kami. Allah tidak akan menelantarkan hambaNya.
• Sepeninggal Ibrahim banyak cobaan menimpa Bunda Hajar. Terutama saat Ismail menangis kehausan.
• Hajar mencari-cari sumber mata air tapi tak ada. Ia berlari-lari mengelilingi lembah dengan napas yang tersengal.
• Tapi dia tidak menemukan mata air.
Ia ingin pergi keluar lembah, akan tetapi Ibrahim sudah berpesan: apa pun yang terjadi jangan pernah meninggalkan lembah ini.
• Dalam keadaan lelah, namun tetap memegang ketaatan pada perintah suami dan keyakinan bahwa Allah akan memelihara mereka, Bunda Hajar kembali menemui Ismail yang ia tinggal di gurun.
• Sampai di sana dia terkejut. Di depan Ismail menyembur air dari balik pepasir. Air yang selalu memancar deras dan tak pernah kering bahkan setelah berabad-abad kemudian.
• Mata air inilah yang sampai sekarang kita sebut air zamzam.
• Bapak ibu.... Alangkah mulianya ahlak Siti Hajar. Aklaknya sebagai istri, juga akhaknya sebagai hamba Allah.
• Hajar tidak protes begitu tahu suaminya melakukan sesuatu yang tampaknya keji itu karena ia diperintah Allah. Hajar justru meyakinkan suaminya, bahwa Allah pasti akan melindungi dia dan Ismail.
• Meski mereka mau mati karena kehausan, Bunda Hajar tidak meninggalkan lembah. Sebab dia patuh pada suaminya yang berpesan: apapun yang terjadi jangan meninggalkan lembah.
• Bandingkan dengan istri-istri jaman sekarang. Atau coba tanya pada diri anda sendiri. Jika anda yang menjadi Hajar, mungkinkah anda tetap di lembah melihat anak anda kehausan?
• Mungkin kita akan keluar dari lembah untuk mencari pertolongan. Atau sekalian ajak Ismail untuk pergi dari lembah.
• Tapi Bunda Hajar taat pada suaminya dan taqwa pada Tuhannya. Makanya dia patuh dan percaya.
• Kemudian Allah abadikan ketaatan Hajar. Lari berkeliling 7 kali dalam sa'i bagi jamaah haji adalah monumen larinya Siti Hajar saat berlari-lari mencari air minum untuk Ismail.
• Idul Adha adalah kisah tentang Ismail. Seorang anak yang ditinggal pergi bapaknya di tengah gurun selama bertahun-tahun.
• Dan saat bertemu kembali, saat sedang asyik-asyiknya melepas rindu, tiba-tiba sang Bapak bertanya: apakah aku boleh menyembelihmu?
• Bapak bapak.... Silahkan tanyakan itu pada anak-anak anda. Niscaya anda akan dianggap gila. Atau bisa jadi malah anda yang disembelih anak anda.
• Tapi apa jawab Ismail?
• Baiklah Ayahanda. Kalau memang itu perintah dari Allah, maka lakukanlah.
• Dan hari itu, sepasang suami istri beserta anaknya yang taat pada Allah sedang diuji. Patuhkah mereka kepada Tuhannya?
• Ternyata mereka patuh. Ibrahim taat, Siti Hajar pasrah, dan Ismail rela. Ketiganya tidak melakukan pembelaan apa pun atas perintah dari Tuhannya.
• Allah kemudian mengabadikan kisah heroik ini dalam Idul Adha.
• Bapak ibu, Idul Adha adalah sebuah kisah yang sangat sakral.
• Tentang Ibrahim yang rela menyembelih anaknya demi imannya pada Allah.
• Tentang Hajar yang taat pada perintah suami untuk tidak meningalkan lembah. 7 kali ia berlari mengelilingi lembah kemudian Allah jadikan salah satu rukun dalam ibadah haji.
• Tentang Ismail yang rela disembelih ayahnya karena yakin bahwa perintah Allah pasti yang terbaik.