Anggapan bahwa bebek, alot, amis, dan sulit dimasak, diubah menjadi MPUK, GURIH, UENAK. Bebek Royal buah kreasi seorang pecinta kuliner, Makroen Sanjaya. Mengubah cara pandang bahwa bebek sulit diolah menjadi makanan yang lezat disantap, adalah mimpinya. Selama hampir 6 bulan, sang empunya mencari segala cara untuk bisa mengolah bebek menjadi makanan yang MPUK, GURIH, UENAK. Setelah melalui proses
uji dapur dan tes rasa yang dilakukan secara terus menerus, maka lahirlah Bebek Royal ini. Bebek Royal kali pertama diluncurkan pada hari Sabtu, 20 Juni 2009. Dengan bekal tekad dan semangat untuk melayani, memuaskan selera para penggemar bebek, dan dilandasai niat baik untuk bisa berkarya dan berkreativitas, maka Bebek Royal pun hadir di tengah masyarakat. Bebek Royal mengambil tempat di sebuah sudut di Taman Royal, sebuah kawasan yang sudah berkembang lebih dari 20 tahun ini. Mengacu pada lokasinya, maka Bebek Royal akan setia berada di kawasan ini, dan akan menjadi bagian dari warga Taman Royal dan masyarakat kota Tangerang. Bebek Royal adalah sebuah perpaduan alam dan kehidupan manusia. Bebek yang diciptakan Tuhan sebagai salah satu makhluk yang bermanfaat bagi manusia, diolah sepenuhnya dengan sentuhan cara-cara alamiah. Seluruh bumbu adalah alamiah, tanpa bahan pengawet, dan seluruh bahan menggunakan produk lokal. Bebek Royal mengusung konsep persembahan alam bagi para penikmat bebek. Setiap ekor bebek, dipotong dengan cara islami, dicabut bulunya sebersih mungkin dengan cara mekanik dan manual, lalu dimasak dengan bumbu inti rempah alami. Dengan bumbu inti rempah plus memotong bagian tertentu pada tubuh bebek, maka menghasilkan aroma yang harum, dan terbebas dari bau amis. Bumbu inti dari rempah itu menghasilkan bumbu hijau, yang menjadi ciri khas Bebek Royal. Selanjutnya, bebek disajikan dengan piring rotan, dilapisi daun pisang, plus lalapan, yang semuanya berasal dari alam.