16/08/2026
Delapan puluh kamera telah menyisir hutan Gunung Wilis. Semuanya dipasang untuk mencari satu bayangan yang paling misterius: Macan Tutul Jawa.
Namun hingga kamera kembali dari hutan, sang predator belum juga muncul dalam bingkai.
Apakah macan tutul telah menghilang dari Wilis? Jawabannya belum tentu.
Dalam survei satwa liar, ketiadaan rekaman bukan berarti ketiadaan satwa. Kamera hanya membaca bagian kecil dari bentang alam yang luas.
Macan tutul bisa bergerak di luar jangkauan kamera, berpindah jalur, atau beraktivitas pada waktu yang berbeda.
Namun, justru ketika sosok macan belum terlihat, kartu memori kamera membawa cerita yang tak kalah penting.
Kijang muncul di banyak petak. Lutung Jawa, Landak Jawa, Monyet Ekor Panjang, Kucing Kuwuk, berbagai jenis musang hingga Trenggiling Peusing ikut tertangkap kamera. Burung-burung penghuni lantai hutan juga muncul dalam rekaman.
Kemunculan sejumlah satwa itu adalah kabar baik. Sebab ada kehidupan yang masih bertahan.
Tetapi ada p**a sesuatu yang membuat cerita Gunung Wilis terasa lebih sunyi. Pada sejumlah petak, kamera merekam indikasi aktivitas manusia berupa pemburu, pemburu burung dan pemikat burung.
Anjing dan kucing domestik juga terlihat memasuki ruang yang digunakan satwa liar. Di sinilah pencarian Macan Tutul Jawa berubah menjadi cerita yang jauh lebih besar.
Sebab menjaga predator puncak bukan hanya soal menemukan keberadaannya. Kita harus memastikan hutan masih menyediakan mangsa, jalur jelajah, konektivitas habitat dan keamanan.
Macan tutul mungkin belum tertangkap kamera. Tetapi hutan sedang berbicara melalui setiap rekaman yang ditinggalkannya.
Dan pertanyaan terbesarnya bukan hanya, “Di mana macan tutul?” Melainkan: masihkah Gunung Wilis cukup aman untuk menjadi rumahnya?
Baca laporan lengkap dan mendalam tentang habitat, satwa mangsa, dan ancaman di balik hutan Wilis dari hasil survei 40 kamera pengintai, melalui bio atau tautan komentar .....