Sushi Don

Sushi Don this may be one of your best bets in town, especially if you looking for Sushi Rolls. Our Specialties : Kogeme Salad, Cheesebury Roll, Oyama Roll,Sake Maki

Geisha (芸者 “seniman”) adalah merupakan seniman-penghibur tradisional di Jepang. Geisha mulai muncul dan menjadi sangat u...
05/04/2014

Geisha (芸者 “seniman”) adalah merupakan seniman-penghibur tradisional di Jepang. Geisha mulai muncul dan menjadi sangat umum pada abad ke-18 dan ke-19, dan masih terkenal hingga sekarang, meskipun jumlahnya sudah mulai menurun. Sebutan lain untuk Geisha diantaranya “Geiko” dan “Maiko”. Istilah “Geiko” dan “Maiko” mulai dipakai pada jaman Restorasi Meiji. Istilah Geiko merupakan sebutan lain untuk Geisha sedangkan Maiko merupakan sebutan untuk Geisha pemula. Sebutan Maiko hanya dipakai di daerah Kyoto saja. Saat pertama muncul, semua Geisha adalah laki-laki, sedangkan saat perempuan mulai mengambil alih peran, istilah Geisha sempat berubah menjadi Onna Geisha atau “seniman wanita”. Namun sekarang semua Geisha hanya diperbolehkan untuk perempuan saja.

Geisha secara tradisional dilatih sejak masih muda. Rumah-rumah Geisha (atau disebut sebagai Okiya) seringkali membawa para gadis yang masih muda dari keluarga miskin dan mereka dibesarkan dan dilatih di rumah tersebut. Selama masa kecil mereka, Geisha pemula awalnya bekerja sebagai pembantu, kemudian sebagai asisten senior Geisha pemilik rumah sebagai bagian dari latihan mereka dan untuk membantu biaya pemeliharaan dan pendidikan mereka. Dan sampai sekarang tradisi pelatihan ini masih ditemukan di Jepang.

Setelah seorang wanita dinyatakan menjadi seorang Geisha pemula (maiko) dia akan mulai menemani senior Geisha ke rumah teh, pesta-pesta, dan perjamuan yang memang sudah merupakan lingkungan kerja seorang Geisha. Geisha modern sekarang tidak lagi dibeli oleh rumah Geisha untuk diangkat sebagai anak didik. Menjadi seorang Geisha sekarang sudah bersifat sukarela. Sekarang, paling banyak Geisha mulai pelatihan mereka saat masih umur belasan.


source:
http://icha-kazeinda.blogspot.com/2012/03/macam-macam-budaya-jepang.html

04/04/2014

Happy friday Sushi Hunter^.^

Bolehkah Ibu Hamil Makan Sushi?Written by Bidanku.comCategory: Pengetahuan KehamilanSushi, merupakan makanan tradisional...
24/03/2014

Bolehkah Ibu Hamil Makan Sushi?

Written by Bidanku.com
Category: Pengetahuan Kehamilan

Sushi, merupakan makanan tradisional jepang yang telah mendunia bahkan makanan ini telah mencuri hati masyarakat Indonesia tidak terkecuali ibu yang sedang hamil. Bolehkah ibu hamil makan sushi? Boleh saja, asalkan seafood yang dipilih pada sushi telah melalui proses yang benar-benar matang selain itu makanan laut sangat bermanfaat dalam menurunkan kecemasan yang sering kali dialami oleh ibu hamil.

Para penelitian dari Children 90-an di University of Bristol dan Universitas Federal Rio de Janiero, Brasil, menemukan bahwa wanita yang tidak pernah makan seafood memiliki kemungkinan 53 persen lebih besar mengalami tingkat kecemasan tinggi pada 32 minggu kehamilan bila dibandingkan dengan wanita yang makan makanan laut secara teratur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dua kali makan ikan putih dan satu kali makan ikan berminyak setiap minggu akan cukup untuk menangkal kecemasan.
Kecemasan yang berlebihan tidak baik untuk kesehatan jangka panjang ibu dan dapat menyebabkan bayinya yang lahir prematur dan memiliki berat badan lahir rendah.

Penelitian sebelumnya dari Anak 90-an telah menunjukkan efek menguntungkan dari makan ikan berminyak selama kehamilan pada IQ dan penglihatan anak. Studi baru ini menunjukkan pentingnya minyak ikan bagi kesehatan mental ibu dan kesehatan dan perkembangan bayinya.
Meskipun Kongres Amerika of Obstetricians dan Gynecologists masih merekomendasikan tidak makan sushi saat hamil, tidak ada bukti ilmiah yang menghubungkan ibu hamil makan sushi dengan risiko kesehatan untuk bayi atau komplikasi dengan kehamilan. Bahkan, Dr Amos Grunebaum, Direktur Obstetri dan Kepala Tenaga Kerja & Pengiriman di Cornell Pusat medis mengatakan tidak ada masalah yang berarti. Di Negara Jepang, makan ikan mentah dianggap sebagai bagian dari nutrisi neonatal baik asalkan ikan tidak tinggi kadar merkuri (salmon adalah pilihan yang aman).
Kekhawatiran utama tentang wanita hamil makan sushi tampaknya datang dari rasa takut parasit. Namun, salmon jarang mengandung parasit yang berbahaya. Akan tetapi, jika tidak anda mengkhawatirkan dampaknya sebaiknya anda memilih sushi yang diproses, yaitu seafood yang telah di proses atau benar benar matang.

Menurut National Academy of Sciences Institute of Medicine, kebanyakan penyakit seafood terkait karena bahan yang digunakan adalah sejenis kerang, bukan dari ikan. Selanjutnya bagi anda yang memilih untuk mengkonsumsi seafood terutama sushi sebaiknya mengikuti saran dari Departement of Agriculture’s Food Safety and Inspection Service, Amerika Serikat. Bahwa suhu masakan yang aman adalah sekitar 63 derajat celcius minimal 15 detik.

Bagi anda yang ingin mengetahui apakah seafood telah dimasak dengan suhu yang pas maka anda dapat memastikannya dengan menggunakan termometer khusus, dengan demikian mikroorganisme seperti parasit dan bakteri bisa terhindar dari ibu hamil. Sedangkan untuk memastikan apakah seafood sudah matang maka anda dapat membedakan seperti kulit udang atau lobster yang berwarna merah sehinngga dagingnya seputih mutiara. Sedangkan cumi-cumi berwarna putih susu dan dagingnya agak liat. Pada ikan yang memiliki daging ikan berwarna putih maka gampang dilepas dari tulangnya dengan garpu sedangkan untuk terakhir adalah cangkang kerang yang terbuka berarti sudah matang maka buang kerang yang cangkangnya masih tertutup.


Sumber : Bolehkah Ibu Hamil Makan Sushi? http://bidanku.com/bolehkah-ibu-hamil-makan-sushi

seafood yang dipilih pada sushi telah melalui proses yang benar-benar matang selain itu makanan laut sangat bermanfaat dalam menurunkan kecemasan yang sering kali dialami oleh ibu hamil

17/03/2014

Dear, SUSHI HUNTER!

Tau gak sih Perbedaan antara sushi dan Sashimi?

Meskipun sushi sudah menjadi sebuah ikon makanan Jepang selama beratus ratus tahun, akhir akhir ini makanan tersebut menjadi sangat popular. Dewasa ini, makanan Jepang menjadi salah satu makan favorit dibanyak tempat dan tentu saja dicari oleh para pencinta makanan di seluruh dunia. Meskippun kepopuleran makanan ini sudah sangat jelas sekali, dengan menjamurnya kedai-kedai makanan jepang atau kedai biasa yang menjajakan makanan ini, kebanyakan orang belum begitu memahami dengan jelas tentang makanan berbahan dasar ikan ini. Misalnya saja tentang hal paling sederhana mengenai perbedaan antara sushi dan sashimi, sepupunya sushi yang tidak kalah lezatnya.
Hal yang paling mudah membedakan adalah jika kita melihat dari masing-masing kata, “sushi” dan “sashimi” tentu sangat berbeda. Meskipun keduanya berasal dari bahasa jepang, sushi dalam pengertiannya lebih mewakili pada “nasi dengan vinegar”, sedangkan sashimi mewakili “makanan dengan ikan mentah”. Hal ini mungkin menjadi informasi pembeda untuk mereka yang menganggap bahwa semua makanan dengan ikan mentah adalah sushi.

Sushi
Meskipun belum jelas tepatnya siapa yang mendefinisikan sushi dan sashimi, namun pada umumnya sushi harus memiliki beberapa criteria atau ciri khusus seperti ; disajikan dengan nasi, beberapa jenis ikan yang difermentasikan, kepiting, tuna, belut dan beberapa jenis buah buahan dan sayuran seperti ; ketimun, mangga atau alpukat. Sushi juga dihidangkan dengan digulung, pada umumnya dibungkus dengan menggunakan rumput laut (nori) atau beberapa tanpa menggunakan nori.

Sashimi
Sashimi tidak begitu berbeda dengan sushi, tetapi pada dasarnya sashimi tidak dihidangkan dengan menggunakan nasi. Sashimi bisa dibuat dai berbagai macam ikan atau seafood yang diiris tipis dan dihidangkan dengan wasabi serta kecap khusus. Penggunaan ikan merupakan hal yang menjadi keharusan untuk sashimi, tetapi beberapa seafood seperti cumi, gurita dan udang juga tidak kalah popular dalam sashimi. Untuk menambahkan citarasa, terkadang sashimi ditambahkan dengan parutan jahe atau bisa juga dengan irisan jahe, daikon (sayuran jepang) dan shiso (jenis daun herbal dari golongan mint)

Rasa
Secara umum sushi dan sashimi memiliki citarasa yang hampir sama, sebagaimana penggunaan garnis dan bumbu yang hampir sama. Tetapi perbedaan utama antara sushi dan sashimi tentu saja terletak pada penggunaan nasi dalam menghidangkannya. Tidak adanya nasi memberikan sashimi kesan lebih pada “makanan bercitarasa ikan” sedangkan citarasa ikan pada sushi lebih dinetralka oleh nasi.

Sumber : www.hotcaketm.com

17/03/2014
15/03/2014

Sushi Don at Delta Plaza Lt 2 and Royal plaza Lt 3. Come Come!!!♥

15/03/2014

Hello Good Afternoon and Happy Weekend Everyone♥

Ada sebuah boneka di Jepang yang sangat dipercaya oleh masyarakat disana sebagai boneka pembawa keberuntungan. Boneka in...
23/02/2014

Ada sebuah boneka di Jepang yang sangat dipercaya oleh masyarakat disana sebagai boneka pembawa keberuntungan. Boneka ini berbentuk bulat tapi tanpa lengan dan kaki dan berwarna merah. Didalam boneka trsebut kosong hanya terisi pemberat yang berguna agar si boneka tetap kembali berdiri tegak walaupun di pukul, di tendang maupun dilempar, hal tersebut yang membuat boneka itu menjadi lambang ketegaran dan pantang menyerah.

Boneka ini dinamakan boneka Daruma, boneka keberuntungan. Apabila masyarakat mengharapkan sesuatu keberuntungan mereka akan membuat mata disalah satu sisinya dengan cat dan tinta, itu kenapa boneka ini sebelumnya tidak memiliki mata. Apabila keinginan dan harapannya terkabul maka mereka akan menambahkan matanya disisi satunya lagi.

Banyak masyarakat Jepang percaya akan hal itu. Misalnya pasangan yang ingin memiliki anak melukis mata boneka daruma, pria atau wanita yang menginginkan jodoh melukis mata daruma. Tidak terkecuali para pemilik usaha atau pemilik toko akan memajang boneka daruma di tempat usahanya agar bisnisnya berjalan dengan lancar atau tokonya banyak dikunjungi konsumen.

Boneka ini bisa dibeli dimana saja diJepang terutama pada saat-saat Festival atau acara besar lainnya. Boneka ini adalah merupakan sebuah simbol dari harapan dan doa dari para pemiliknya dan merupakan representasi dari pendiri Zen yaitu Bodhidarma dalam agama Budha yang telah melakukan meditasi selama 9 tahun di vihara.

28/01/2014

Tata cara makan Sushi :

Menggunakan sumpit atau tangan langsung (dalam keadaan bersih). Bila bersantap di resto otentik omakase akan disediakan oshibori (handuk hangat).
Gunakan shoyu secukupnya. Celupkan sushi sebatas bagian neta, bukan bagian nasi pada nigirizushi.
Di sejumlah resto tertentu, disediakan saus Tare. Ini hanya untuk unagi (belut) atau ikan bakar dan makanan laut yang matang.
Nigirizushi umumnya dimakan dalam sekali suapan. Berbeda bila itu utomaki atau roll sushi yang berukuran besar
Pemakaian wasabi umumnya dioleskan di antara nasi dan neta pada nigirizushi, atau dioleskan ke irisan ikan pada sashimi.
Hindari mencampur bubuk cabai (ichimi togarashi) dengan shoyu untuk makan sushi. Sebab fungsi wasabi tidak terdapat pada cabai. Gunakan bubuk cabai pada hanya masakan berkuah .
Fungsi Gari (jahe) pada saat kita makan sushi adalah untuk menetralisir indera pengecap kita apabila hendak memakan satu jenis sushi dengan aneka neta. Jahe dimakan langsung di antara satu sushi dan lainnya.
Segera makan sushi yang sudah tersaji agar tidak menurun rasanya.
Minumlah ocha (teh hijau) pada saat makan sushi.

16/01/2014
15/01/2014

SUSHI THE JAPANESE "SNACK"
1000 Years of History
By Jorie Nolen

What has become a Japanese culinary art with delicious flavor and colorful form, actually evolved from very meager beginnings. In the 7th century, Southeast Asians introduced the technique of pickling. The Japanese acquired this same practice which consisted of packing fish with rice. As the fish fermented the rice produced a lactic acid which in turn caused the pickling of the pressed fish. Nare-Sushi is 1300 years old and refers to the finished edible product resulting from this early method.

However, due to its lengthy process, anywhere from 2 months to a year, an altered form appears through the 15th and 16th centuries. Nama-Nare refers to this more rapid process of pickling which cut the fermentation time while including the rice as part of the meal. Ancient sushi such as, Nare-Sushi and Nama-Nare were the foundation for what later became the delightfully tasteful sushi we are familiar with today.

Improvements through the centuries came about because of a few entrepreneurial Japanese who possessed the knack for recipe variation. The 17th century saw this delicate finger food complimented with vinegar. Matsumoto Yoshiichi of Edo (Tokyo) introduced the use of rice vinegar into the sushi rice. The vinegar was a welcome ingredient. It served to reduce the usual lengthy preparation while adding a pleasant flavor of tartness. Although the process of fermentation was shortened, the custom of aged pickling with the boxed or rolled method was continued until the 19th century.

In the 1820's Hanaya Yohei of Edo (Tokyo) brought to Edoites a recipe most similar to what we are served today. His morsels, which included Sashimi (fresh sliced raw fish) or seafood combined with the vinegared rice, were prepared and served for customers directly from his sushi stall. Not only did Hanaya introduce raw fish to sushi rice (Edomae-Sushi/Nigiri-Sushi), he began a tradition of serving snack food at it's freshest and fastest. His idea won immediate favor over the more time-honored sushi dishes. The portable stall was popular through WWII and was the "Fast Food" predecessor to the sushi bars of today.

This healthy and delicious mouthful saw its most recent transformation in the 20th century. Sushi now appears world wide with a United States popularity increase around the late 1970's. As in art, Japanese Sushi continues to grow, change and blossom. The most common forms are: Nigiri -Sushi (hand shaped sushi), Oshi-Sushi (pressed sushi), Maki-Sushi (rolled sushi) and Chirashi-sushi (scattered sushi). The changes are not in form or preparation as much as they are in the ingredients and the atmosphere where it is served. These adventurous and tasty creations can be found in the most elegant of settings or the grocery market counter.

The Itamae-San (expert chef) has also seen change as demand for his/her craft has grown. Years ago, one could not practice this art form without a minimum of 10 years of training and proven skill. Now, due to the growing need, restaurants will hire Sushi chefs with just a few years of learning experience. But Sushi is about culinary expertise and an Itamae-San continually strives to master his/her skill while performing for the delight of the patron and serving an array of bright colors, mouthwatering tastes and tingling sensations. Even the most timid can indulge themselves with the amazing selections of sushi. Just the history of these rolled treasures should warrant a taste … so give in and enjoy an authentic Japanese edible art form.

Address

3338 Main
Surabaya
47905

Opening Hours

Monday 10:00 - 22:00
Tuesday 10:00 - 22:00
Wednesday 10:00 - 22:00
Thursday 10:00 - 22:00
Friday 10:00 - 22:00
Saturday 10:00 - 22:00
Sunday 10:00 - 22:00

Telephone

+623171556513

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Sushi Don posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Sushi Don:

Share