Kopi Aksara

Kopi Aksara Sebelah Timur Jl. Lembah UGM. Tepat di pinggir jalan

.Per hari kemarin ini si Senandika kemasan kecil-kecil sudah sedang kami kosongkan stoknya di Tokopakedi.Teman-teman yan...
07/07/2022

.
Per hari kemarin ini si Senandika kemasan kecil-kecil sudah sedang kami kosongkan stoknya di Tokopakedi.

Teman-teman yang sudah nembung lewat pesan de.em-de.eman harap bersabar sebentar. Maklum kami memang belum nyetok banyak-banyak. Segera kami naik-naik ke gunung dahulu bawa pulang beans kemudian. Lalu sangrai-sangrai juga bungkus-bungkus.

Terima kasih banyak ya yang sudah mau ikut mengapresiasi. Semoga senang dan membahagiakan.

Lucunya si Senandika ini memunculkan ide-ide kopi yang dirancang untuk kopi rumahan. Nanti deh kami pikirin lagi gimana caranya. Kabar akan kami munculkan tetap dari unggahan-unggahan di akun ini.

Oh iya, tidak ada hari libur selama musim lebaran Adha. Sampai bertemu lagi di rumah.

Kami sayang kalian


.Sudah beberapa hari tersedia melalui Tokopedia. Kami hanya menyiapkan sekitaran dua puluh pack dikalikan 216 gram. Hari...
30/06/2022

.
Sudah beberapa hari tersedia melalui Tokopedia. Kami hanya menyiapkan sekitaran dua puluh pack dikalikan 216 gram. Hari ini hanya tersisa empat pack, dan semuanya diangkut tanpa melalui Tokopedia.

Beberapa hari kedepan kalau sudah ada green beansnya, akan kami coba sangraikan lagi.

"Agak gagap" memang kami dalam menggunakan platform toko-toko online yang tersedia. Hasilnya, penjualan bagus belum pernah terjadi di sana.

Militan-militan kopi yang masih menyukai bertatap bicara, melempar surat kabar dari mulut ke mulut, adalah tersangka kedua atau ketiga.

Sedangkan kami yang jarang tepat waktu dan tepat formula dalam mengiklankan produk adalah tersangka utamanya.

Ini adalah beans yang juga kami sangrai sendiri, setelah kami coba dan sambil menanyakannya pada beberapa orang, hasilnya kopi ini cukup fleksibel untuk dinikmati;

Espresso, Tubruk, Saring. Tipikal kopi enak untuk dinikmati di kos atau rumahan.

Meski begitu, kami akan tetap memaksakan kehendak, bahwa kopi ini tetap kami gunakan untuk basic espresso di meja seduh kami.

Selamat menikmati, semoga menimbulkan gembira dan membahagiakan.

Kami sayang kalian.


.-berkembang menjadi dan menuju..-Ada beberapa kelompok/komunitas yang saya ingat, mereka lahir dari tongkrongan-obrolan...
01/06/2022

.
-berkembang menjadi dan menuju..-
Ada beberapa kelompok/komunitas yang saya ingat, mereka lahir dari tongkrongan-obrolan warung kopi. Atau setidaknya, saya mengenal mereka dari sana.

Jogja Garuk Sampah/Peduli Sampah YK. Kalau tidak salah ingat, begitu bunyi panggilannya. Waktu itu saya mengenal mereka dari ngopi di Pakde Sas, Oemah Kopi Oemah Sedulur, Jetis. ingat? Entah, 2014-2015. Kemudian saya diarahkan pada ruas-ruas jalan yang melingkari Gor Kridisono.

Dari sana cerita merambat pada kelompok-kelompok lain. Misal, , JLFR .id dan "komunitas bagi nasi" yang ternyata jumlahnya tidak sedikit. Ada STMJ (Sedekah Tiap Malam Jumat), Bernas, , dsb. Ingat, ? gerakan sosial yang bergerak di bidang serampangan dan apa aja digarap, asalkan manfaat.

Lalu, pada warung kopi lain saya dikenalkan dengan TC lengkap dengan "kontra"nya, , Basecamp Barameru, Merapi. Kemudian di kota ada , lengkap dengan beberapa orang yang (sok-sokan) membesarkan pundak dan hatinya bagi kelompok/komunitas. Misal dan . :P

Tahun-tahun itu, diam-diam saya jadi anak kecil yang merekam apa-apa yang bisa saya lihat dan rasa. Bagaimana romantisnya Jogja untuk apa yang disebut "hidup-menghidupi". Berkelompok, mengenal seseorang dan sesuatu yang baru. Rasa aman.

Diam-diam juga saya mengingat-ingat lagi tahun-tahun itu, ada beberapa hal menarik yang bisa saya tarik benang merahnya, satu di antaranya;

Mereka memiliki "Warung Kopi"nya masing-masing. Sebuah ruang tanpa sekat sosial, tanpa senjata dan tanpa UU-ITE, tentunya. Ruang dimana ide, bicara dan laku bisa tumbuh subur dan sehat.

Bentuknya bisa apapun. Lahirnya bisa dari manapun.

Ini bukan teks romantisasi atau glorifikasi masa lalu. Hanya sebuah usaha membaca jejak bagaimana iklim-kebiasaan tertentu bergerak, berubah, dengan segala macam faktor, tentunya.

Kita lanjutkan teks ini pada unggahan berikutnya. Sampai bertemu di rumah.

Kami sayang kalian.
Pict:

.-2016 sampai 2018 kami menghuni sebuah Ruko di daerah Kamajaya-Tahun-tahun (sebelum) itu, pada lingkaran-lingkaran saya...
26/05/2022

.
-2016 sampai 2018 kami menghuni sebuah Ruko di daerah Kamajaya-
Tahun-tahun (sebelum) itu, pada lingkaran-lingkaran saya, di kampus, di posko-posko bencana, basecamp pendakian, atau di burjo dan angkringan. Pembicaraan kami mengenai warung kopi belum sampai pada titik;

Beans yang disediakan, proses pasca panen, mesin yang digunakan, kompetisi yang diikuti atau dimenangkan, cangkir yang digunakan, level sangrai, resep seduh.

Oh, atau yang lebih tidak kepikiran lagi; "mbak-mbak mana yang nyeduh?"

Dan/atau segala hal yang sekarang jadi begitu lumrah & mudah untuk kita dengar, bicarakan, mengenai rantai produksi kopi dan/atau warung kopi.

Tahun-tahun itu, sederhananya kami mengenal warung kopi dari:

Buku yang mereka sediakan,
"wadah pergerakan" yang mereka tawarkan, dan "posisi tawar" warung kopi itu pada isu-isu lingkungan/sosial/politik tertentu.

Misal, apakah warung kopi itu menggunakan sedotan/straw plastik sekali pakai? Atau sudah memikirkan substitusinya sebagai "seminim-minimnya" bentuk kepedulian terhadap kondisi lingkungan (?).

Atau, yang lebih sederhana lagi adalah segmentasi tongkrongan;

"Kamu kalau s**a musik blues coba deh, ngopi di Bjong"

"Anak-anak filsafat yang bahas seni dan sastra mah pada nongkrong di Blandongan"

"Mau nugas begadang sampe pagi? kalau ga di Semesta ya di Mato"

Iya, hal-hal semacam dan sekitaran itu.

Saya melihatnya sebagai sesuatu yang wajar, bahkan sesuatu yang seyogyanya, semestinya.

Posisi Yogyakarta sebagai kota yang menyediakan sekian universitas, tentu juga berdampak pada tersedianya pergaulan-pembahasan pada "ranah intelek".

Lalu, segmentasi warung kopi seperti di atas itu tadi, dengan atau tanpa sadar memberi "ruang aman" bagi kelompok-kelompok kecil yang "kesepian" dengan pilihan sikapnya, pertimbangan mendasarnya dalam melakukan sesuatu atau dalam laku konsumtifnya.

Tidak berhenti di situ, kelompok-kelompok kecil itu berkembang menjadi dan menuju,,
Teks akan dilanjutkan pada unggahan berikutnya. Sampai bertemu di rumah.
Gambar:

.Aku di sini sajamenjaga debar yang kamu tinggalkanPada cangkir keramikbibirmu melulu dikecupPada layar perangkatsenyumm...
14/05/2022

.
Aku di sini saja
menjaga debar yang kamu tinggalkan

Pada cangkir keramik
bibirmu melulu dikecup
Pada layar perangkat
senyummu lumat

Aku di sini saja
pada buku-buku yang langu
melacak jejak matamu

.Masih pada suasana lebaran, kami siap dikunjungi malam ini, oleh mengalirnya cerita kalian tentang pahit-manis-asamnya ...
06/05/2022

.
Masih pada suasana lebaran, kami siap dikunjungi malam ini, oleh mengalirnya cerita kalian tentang pahit-manis-asamnya ini-itu.

Cerita bahagia juga boleh, yang di atas itu juga belum tentu bukan cerita bahagia, kan?

Hari ini kami wira-wiri di luar, sejak ngopi pagi di area Sagan, sampai menjelang sore kami sudah sampai ke Puluhadi.

Sebagian besar toko sangrai kopi sudah mulai buka kembali hari ini.

Selain untuk salaman dan pelukan, mencomot nastar, kastengel, dan kata-kata. Kami juga sekaligus memperbarui kabar perihal industri ini (penting ga penting tapi penting) juga memperbarui deret kopi di meja bar.

Beberapa pesan dan obrolan juga masih membahas perihal , kami masih hutang untuk mengirim kopi kepada para pembaca. Kalem, kejutan pokoknya. Tunggu saja pesan kami masuk untuk meminta jelasnya alamat rumah. πŸŒΌπŸ’•.

Baiklah, obrolan bisa kita lanjutkan di depan bar atau rak buku.

Sampai bertemu
Kami sayang kalian.

.Selamat lebaranselamat berkumpul dan menghangatkan hari raya.Pada gambar pertamakami belajar menjadi warung kopi.Pada g...
03/05/2022

.
Selamat lebaran
selamat berkumpul dan menghangatkan hari raya.

Pada gambar pertama
kami belajar menjadi warung kopi.

Pada gambar kedua
kami belajar jadi negara.

Pada unggahan berikutnya
kami rindu menulis ini-itu pada feed instagram.

Oh iya, kami sudah mulai buka.

Sekali lagi, selamat menghangatkan pertemuan. Hati-hati di jalan hingga pulang. Kami sayang kalian.

.Sudah sampai pada waktunya.Kami mengundang teman-teman semua, untuk pulang ke rumah, sore hingga malam ini, menjelang w...
20/04/2022

.
Sudah sampai pada waktunya.

Kami mengundang teman-teman semua, untuk pulang ke rumah, sore hingga malam ini, menjelang waktu berbuka puasa.

Kita berpuisi, "setelah itu puasa".

Puisi-puisi menagih pulang miliknya; pikiran, tingkah laku; Manusia.

Para penyair meminta kembali pertapaannya, kita mengantarnya dengan luka-luka, kesunyian dan tanda tanya.
Pada ruang daring, dalam beberapa menit yang menenangkan, Mas akan menemani kita dengan sajak-sajaknya, sebagai penutup.

Lalu, bagi sesiapa yang sudah mengisi siaran dengan membaca puisi, dalam enam belas hari terakhir. Salam hormat dari kami, Sungguh kami berterima kasih, sangat dalam; Terima kasih.

Juga bagi para penulis, penerbit, yang bukunya sempat kami bacakan. Terima kasih. Terima kasih.

Sedikit mendadak, tetapi semoga melahirkan percik kerinduan.
Sampai bertemu lagi, pada puisi dan puasa berikutnya.

Atas segala yang masih sangat penuh kekurangan, kami meminta maklum yang cukup.

Kami sayang kalian.


.Sudah mendaftarkan diri? Melalui siaran langsung di Instagram, kita puisikan bulan puasa, yes..Dari beberapa yang sudah...
03/04/2022

.
Sudah mendaftarkan diri? Melalui siaran langsung di Instagram, kita puisikan bulan puasa, yes..

Dari beberapa yang sudah mendaftar, katanya agak malu kalau siaran langsung gitu. Nah, gini nih.. Para penyair boleh saja menjadi petapa agung di dalam goa sunyinya masing-masing. Kami paham itu.

Izinkan kami mengajak kalian keluar dari goa-goa sunyi itu, beberapa puluh menit saja. Barangkali dunia sedang membutuhkan bijaksanamu, hasil pertapaanmu.

Aih, bukan sesuatu banget, kok. Kita melakukan hal yang biasa saja sebetulnya, seperti yang kami jelaskan pada teks di unggahan sebelumnya.

Ada jarak yang begitu dekat antara puisi dan puasa, antara sair, sihir dan siar, antara penyihir, penyair dan penyiar. Ah! Gitu lah..

Oh iya. Setelah ditegur dalam mimpi oleh , penulis yang bukunya dibahas pada Selasar Aksara 3, kami baru sadar kalau kami salah menyematkan edisi.

Jadi yang benar adalah SELASAR AKSARA EDISI 4 untuk BUKU PUISI SEBELUM BUKA PUASA.

Yasudah, itu.. Unggahan ini sekalian mengoreksi unggahan sebelumnya yang terdapat kesalahan pada penempatan judul edisi.

Gitu yak, sampai bertemu pada siaran langsung yang akan kami mulai pada hari Senin, 4 April 2022.

.Kami akan mulai pada hari kedua atau ketiga puasa ramadhan. Hari pertama akan tetap jadi milik kalian dengan segala han...
01/04/2022

.
Kami akan mulai pada hari kedua atau ketiga puasa ramadhan. Hari pertama akan tetap jadi milik kalian dengan segala hangat dan kecintaan.

Kami berharap dapat mengawali dan mengisi bulan yang hebat ini dengan menelusuri kata-kata; pikiran dan harapan banyak manusia; Puisi.

Segera kabari kami, jika kalian ingin hadir dan membersamai.

Puisi. Mereka begitu unik, selalu.
Tentu, tidak segamblang negara dalam membangunkan pagi kita belakangan ini, dengan apa-apa yang jadi sulit atau harganya selalu naik.

Meski kita tahu terkadang cinta juga butuh telanjang. Sesekali.

Ah! tapi.

Puisi tidak pernah berhasil dijebak dalam ruang-ruang definisi, pada pijakan pilihan yang hanya "itu" dan "ini".

Sudah sejak lama aku mencurigai Penyair dan Penyihir,
Sair dan Sihir,
Puisi dan Ayat suci.

Mereka terasa begitu dekat, lekat. Hanya setipis-tipisnya sekat; oleh jarak; sudut pandang.

"Lalu apa yang begitu Kasih dari Puisi?"

Bagiku, mereka tidak menawarkan Surga dan Neraka. Mereka tidak menebar ketakutan dan kebohongan. Mereka tidak membangun sebuah konstruksi hubungan yang transaksional yang penuh bujuk-bujuk perhitungan. Mereka tidak akan hanya lahir dalam bentuk-bentuk tafsir yang dibingkai oleh sekat-sekat kepentingan. Mereka menawarkan kemerdekaan yang sama sekali lain dari kebebasan; Kecerdasan.

Mereka tidak menawarkan apa-apa selain diri mereka sendiri; Puisi itu sendiri.

Seumpama
Puisi adalah Jatuh Cinta;
atasnya lagi

Seumpama
Puisi adalah Patah Hati;
lebih dalam lagi.
Selasar Aksara 3
Buku Puisi
Sebelum
Buka Puasa

.Lorong-lorong kecil menuju masjid sudah sedang dihias dengan lampu-lampu juga lampion buatan warga.Organisasi pemuda, p...
31/03/2022

.
Lorong-lorong kecil menuju masjid sudah sedang dihias dengan lampu-lampu juga lampion buatan warga.

Organisasi pemuda, paguyuban para bapak-bapak, ibu-ibu pkk dan paud di Cepit Baru sudah mulai bergegas dengan giat-giat mereka.

Suasana sekitar rumah menjadi seperti gegap gempita. Suara anak-anak kecil yang berkumpul di masjid dan berlarian sesaat sebelum ufuk, belakangan ini terasa lebih terang dan nyaring.

Suara makhluk-makhluk kecil itu, semakin sering bocor lewat pengeras suara, begitu khas.

Tukang-tukang dan mandor proyek di depan rumah, sudah sedang berlibur dalam beberapa hari kedepan.

Sebentar lagi,
sebentar lagi.

.Sudut-sudut yang membacaadalah sudut paling bahagia bagi kamiuntuk dilihat dan diambil gambarnyamenenangkanjuga tidak t...
25/03/2022

.
Sudut-sudut yang membaca
adalah sudut paling bahagia bagi kami
untuk dilihat dan diambil gambarnya
menenangkan
juga tidak terlalu mencipta bising

Orang-orang yang membaca, biasanya adalah orang-orang yang intim.

Mereka menyimpan beberapa perangkat, mengesampingkan beberapa urusan, menunda keterhubungannya dengan dunia ramai, memperkuat hubungannya dengan diri sendiri dan terkasihnya.

Orang-orang yang membaca,
mereka diam, tapi sedang bekerja
mereka hening tapi hati dan pikirannya tualang. Mengetuk ruang-ruang paling sunyi pada pikirannya, memberi makan imajinasi yang kadang, jarang disentuhnya.

Kebebasan, burung dara yang terbang
mengepak keluar dari sangkar bentukan zaman.

Orang-orang yang membaca
orang-orang yang selalu punya usaha
menemukan;
seberapa banyak
seberapa kuat
seberapa liar
seberapa rapuh

Atau

Seberapa luka
dirinya
di dalam sana.

Selamat membaca kawan-kawan
sekalipun membaca dapat berbuah penjara; jangan padam (: .

Address

Jalan Jembatan Merah IV, No. 250, Soropadan, Condongcatur, Depok, D. I Yogyakarta
Sleman
55283

Opening Hours

Monday 16:00 - 23:55
Tuesday 16:00 - 23:55
Wednesday 16:00 - 23:55
Thursday 16:00 - 23:55
Friday 16:00 - 23:55
Saturday 16:00 - 23:55
Sunday 16:00 - 23:55

Telephone

+6289636373562

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Kopi Aksara posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Kopi Aksara:

Share

Category