26/05/2022
.
-2016 sampai 2018 kami menghuni sebuah Ruko di daerah Kamajaya-
Tahun-tahun (sebelum) itu, pada lingkaran-lingkaran saya, di kampus, di posko-posko bencana, basecamp pendakian, atau di burjo dan angkringan. Pembicaraan kami mengenai warung kopi belum sampai pada titik;
Beans yang disediakan, proses pasca panen, mesin yang digunakan, kompetisi yang diikuti atau dimenangkan, cangkir yang digunakan, level sangrai, resep seduh.
Oh, atau yang lebih tidak kepikiran lagi; "mbak-mbak mana yang nyeduh?"
Dan/atau segala hal yang sekarang jadi begitu lumrah & mudah untuk kita dengar, bicarakan, mengenai rantai produksi kopi dan/atau warung kopi.
Tahun-tahun itu, sederhananya kami mengenal warung kopi dari:
Buku yang mereka sediakan,
"wadah pergerakan" yang mereka tawarkan, dan "posisi tawar" warung kopi itu pada isu-isu lingkungan/sosial/politik tertentu.
Misal, apakah warung kopi itu menggunakan sedotan/straw plastik sekali pakai? Atau sudah memikirkan substitusinya sebagai "seminim-minimnya" bentuk kepedulian terhadap kondisi lingkungan (?).
Atau, yang lebih sederhana lagi adalah segmentasi tongkrongan;
"Kamu kalau s**a musik blues coba deh, ngopi di Bjong"
"Anak-anak filsafat yang bahas seni dan sastra mah pada nongkrong di Blandongan"
"Mau nugas begadang sampe pagi? kalau ga di Semesta ya di Mato"
Iya, hal-hal semacam dan sekitaran itu.
Saya melihatnya sebagai sesuatu yang wajar, bahkan sesuatu yang seyogyanya, semestinya.
Posisi Yogyakarta sebagai kota yang menyediakan sekian universitas, tentu juga berdampak pada tersedianya pergaulan-pembahasan pada "ranah intelek".
Lalu, segmentasi warung kopi seperti di atas itu tadi, dengan atau tanpa sadar memberi "ruang aman" bagi kelompok-kelompok kecil yang "kesepian" dengan pilihan sikapnya, pertimbangan mendasarnya dalam melakukan sesuatu atau dalam laku konsumtifnya.
Tidak berhenti di situ, kelompok-kelompok kecil itu berkembang menjadi dan menuju,,
Teks akan dilanjutkan pada unggahan berikutnya. Sampai bertemu di rumah.
Gambar: