04/04/2019
BEUKENHOF
makan ala kumpeni belanda.
Berlokasi dibelakang museum Ullen Sentalu, tepatnya di Jalan Boyong Kaliurang Yogyakarta. Libur tiap hari Senin dengan jam buka sesuai jadwal museum yaitu 9.30 -17.00 saja.
Dari luar, gedungnya nampak biasa saja. Tapi begitu memasuki pintu utama, Beukenhof nampak menawan dengan desain interior ala kolonial. Hiasan yang dipajang didalam juga tampak kuno, tapi sekaligus juga terasa modern. Sejauh mata memandang hamparan kursi, meja dan desain interiornya, membuat saya mendadak merasa jadi noni Belanda!
Suasananya syahdu tapi romantis, dengan jejeran lampu dan sebatang lilin diatas meja. Melempar pandang keluar jendela, terhampar pemandangan halaman rumput yang luas dan pepohonan yang rimbun. Tak perlu AC karena udara gunung Merapi sudah terasa sejuk.
Tak nampak greeter, namun dari kejauhan, suara waiter menyambut kami dengan ucapan selamat datang. Kamipun berkeliling sebentar untuk memilih tempat duduk yang paling nyaman, sambil menyambar buku menu yang tergeletak di meja depan.
Buku menunya tak bergambar. Jadi cukup sulit menerka wujud makanan yang ditawarkan. Waiter dengan sabar menjelaskan karena pengunjung belum terlalu banyak pagi itu.
Escargot with Philadelphia Touch menjadi pilihan pembuka. Saya membayangkan seperti apa gerangan sang chef hendak mengolah bekicot, binatang yang sering kami lihat s**a berkeliaran di pekarangan rumah. Oh rupanya dimasak seperti soup dengan lelehan keju mozzarella sebagai toppingnya. Mengingat appetizer biasanya dimakan tanpa karbohidrat, saya agak takjub dengan rasanya yang menurut kami keasinan. Kalau mereka memakai salted mozarella, saya ingin tahu dimana toko yang menjualnya.
Pesanan si denok datang, Kids Spagetti Bolognese, salah satu dari 4 opsi Kids Menu yang ditawarkan. Rasanya standar, tidak istimewa. Padahal menurut waiter, pasta merupakan keunggulan mereka.
Sudah kadung percaya, Beukenhof Lasagna diantarkan ke meja. Tampilannya menarik, namun tak memuaskan lapar kami karena porsinya tak terlalu besar. Ada benarnya juga sebenarnya jika dimakan dalam porsi kecil, supaya tidak eneg mengingat kejunya yang melimpah.
Finally pesanan saya datang, ikan lagi ikan lagi. Pan Seared Mahi-Mahi.
Ikan Mahi-Mahi adalah jenis ikan laut berwarna kulit kehijauan yang dapat dimasak dengan cara apapun tanpa mengurangi kelezatannya. Dagingnya yang lunak dan manis, sangat rendah lemak namun sangat lembut dan kaya akan rasa. Bila dimasak sempurna,rasa manis daging ikan sangat pas dihidangkan dengan saus yang creamy dengan sedikit kucuran jeruk lemon, sebagaimana yang tersaji di atas meja kami.
Minuman yang kami pesan juga istimewa. Vanilla Rhum, milkshake dengan aroma rum yang kuat. Duh, bisa ketagihan nanti si denok kalau tak dibatasi nyeruputnya.
Suasana yang syahdu dengan cuaca yang sejuk juga cocok dengan teh yang kami pesan. Seteko teh berwarna hijau pekat dengan aroma mint yang menyegarkan.
Harga memang sedikit diatas rata-rata tempat makan yang biasa kami kunjungi di pusat kota Jogja. Namun bagi kami, pengalaman baru jauh lebih berharga.