09/03/2019
Bapak, Ibu; mari berhenti sejenak ...
Merehatkan segala pikiran dan tenaga kepada segala aktivitas pekerjaan di kantor, di toko, di bengkel, atau apa pun rutinitas penopang hidup kita sehari-hari --menghidupi anak istri-- demi sebuah berkah bernama rezeki dari Illahi.
Sering kita terjebak ketika harus memilih, pekerjaan atau keluarga, mana yang patut didahulukan?
Tentu, jawabannya adalah bukan perkara memilih. Tetapi menjalani, pada porsi dan kadar yang selayaknya, juga sepantasnya. Keduanya mempunyai keterkaitan imbal balik yang saling selaras dan sepadan. Tanpa keluarga buat apa kita bekerja? Juga tanpa pekerjaan, apalah arti kita di mata keluarga? Toh darah yang mengalir di tubuh kita, juga kepada anak dan istri di rumah, adalah hasil dari fasilitas pekerjaan yang dipersilahkan kepada kita untuk bertanggung jawab sebaik-baiknya.
Penerapannya adalah persoal keseimbangan. Bagaimana seyogyanya dan memang semestinya, keduanya diberikan keseimbangan yang saling memenuhi persyaratan nilai-nilai pertanggungjawaban. Menjadi bijaksana belum tentu terkatakan bijak oleh orang lain, manakala unsur pertanggungjawaban tersebut masih ada yang terlalaikan. Namun dari sebuah pekerjaan itu sendiri, juga mempunyai batas-batas wajar sebuah kemakluman untuk memberikan individu-individu mempertanggungjawabkan aspek kemanusiaan, sebagaimana Sumber Daya Manusia merupakan nilai aset yang paling tinggi nilainya dari sebuah objek bernama pekerjaan, pada suatu bidang usaha/bisnis.
Selamat menikmati weekend bersama keluarga Anda. Karena sebaik-baiknya tempat untuk berbagi adalah teman dan sahabat, juga sebaik-baiknya tempat untuk kembali adalah keluarga dan juga kerabat.