25/06/2020
Sedikit Soal Ip Man The Finale: Simbol dan Data Politik di Kota Manado
Awal tahun 2020 ditandai dengan diluncurkannya episode akhir dari film fenomenal bergenre seni-beladiri Mandarin: Ip Man. Sampai kini, film ini telah dilepaskan ke publik dalam lima seri berturut-turut, yaitu: Ip Man (2008), Ip Man 2 (2010), Ip Man 3 (2015), Master Z-Ip Man Legacy (2018) dan Ip Man-The Finale (2019).
Ip Man atau ada juga yang menyebut Yip Man diperankan oleh Donny Yen adalah seorang legenda silat, master seni beladiri Tiongkok yang diberi label Wing Chun. Harafiahnya berarti ‘Nyanyian Musim Semi’ atau ‘Musim Semi Abadi’. Lafalnya juga dieja sebagai Ving Tsun atau Wing Tsun dan merupakan seni beladiri Tiongkok yang mengkombinasikan penyerangan dan pergulatan dengan spesialisasi pertarungan jarak dekat.
Ip Man atau Yip Man, sang legenda, tokoh utama dari film ini adalah orang biasa, bukan bagian dari pemangku kebijakan warga Tiongkok di perantauan. Sebagai seorang guru beladiri, keseharian hidupnya diabdikan untuk melestarikan ‘warisan’ budaya leluhur Tiongkok dalam bidang seni beladiri.
Keseharian hidup Ip Man tak lepas dari segala hal yang berhubungan dengan seni beladiri Wing Chun. Bahkan untuk menghidupi keluarganya, ia membuka perguruan silat yang mengajarkan seni beladiri ini. Sasaran muridnya adalah warga keturunan Tiongkok.
Tentu perguruan beladirinya bersaing dengan berbagai macam perguruan beladiri, baik yang berasal dari Tiongkok sendiri, tetapi berbeda aliran atau seni beladiri ala Jepang.
Seni beladiri Wing Chun, bukan hanya semata untuk urusan adu jotos, tapi lebih dari itu—dan mungkin menurut saya yang paling penting—adalah lebih kepada teknik mengelola emosi. Ini tergambar dari perilaku dari Ip Man, ketika menghadapi tantangan atau bahkan hinaan, ketenangan emosinya tetap terpelihara. Bukan karena takut menerima tantangan (duel), melainkan beliau lebih mengedepankan ‘negosiasi’ damai tanpa harus berduel.
Wing Chun bukan sekadar seni beladiri, tetapi lebih dari itu, sebuah filosofi hidup. Menjadi ‘ahli’ Wing Chun bukan untuk mendapatkan ‘gelar’ jagoan, melainkan untuk mematangkan emosi dan perilaku.
Ip Man yang dilahirkan dari keluarga pendukung budaya Tiongkok. Tentu, -amat sangat mungkin- dalam keluarganya, ajaran-ajaran budaya Tiongkok betul-betul tertanam dan menjadi ‘kompas’ perilaku dalam hidup bermasyarakat. Penghargaan dan penerapan budaya Tiongkok sangat di junjung tinggi oleh Ip Man. Jangan heran dalam film seri terakhir itu (dan sama persis dengan kenyataan hidupnya), sebelum meninggal dunia (karena menderita penyakit paru-paru), ia masih sempat mendokumentasikan dalam bentuk video jurus-jurus penting seni beladiri Wing Chun, untuk dijadikan bahan pelajaran buat murid-muridnya. Salah satu muridnya yang paling terkenal dan kemudian menjadi legenda adalah Bruce Lee.
Kalau Ip Man mendokumentasikan ajaran seni beladiri Wing Chun melalui media video, seorang legenda Bruce Lee mendokumentasikan seni beladiri Wing Chun dalam bentuk dokumen tertulis (buku) bukan hanya dalam bahasa Mandarin, tapi juga dalam bahasa Inggris berhuruf latin. Ini sempat menjadi polemik di antara para pemangku kebijakan warga Tiongkok di perantauan.
Sosok Bruce Lee adalah pengecualian disini. Karena memang, secara umum kita mengenal warga keturunan Tiongkok cenderung ‘elitis’, ‘tertutup’ dan solid. Walau begitu banyak faksi-faksi berdasarkan marga, daerah asal, bahkan mungkin juga berdasarkan ‘kekuasaan’ (kekayaan), tapi pada saat tertentu, faksi-faksi ini bisa ‘bersatu’ dan berjuang bersama pada hal-hal yang berhubungan dengan kepetingan bersama mereka.
Ip Man sepanjang hidupnya, tetap konsisten mempertahankan dan melestarikan seni beladiri made in Tiongkok ini. Mewariskan kepada generasi penerus dalam bentuk video, agar supaya, Wing Chun tetap berlanjut sampai generasi selanjutnya. Sementara, Bruce Lee, melakukan sebuah ‘lompatan’ penting dengan memperkenalkan Wing Chun kepada orang-orang di luar pendukung budaya Tiongkok.
Dalam konteks masa kini, Ip Man dan Bruce Lee menjadi menarik untuk ditelusuri refleksi dan benang merahnya, yaitu yang mengarah pada kehadiran orang-orang Tiongkok (lazim disebut Tionghoa di Indonesia) secara keseluruhan.
Walau berada dimana pun di muka bumi ini, warga keturunan Tiongkok, tetap mempertahankan budaya leluhur mereka. Bahkan saat pindah agama (karena pernikahan) mereka tetap ‘melestarikan’ budayanya dengan baik. Makanya, di kota-kota kita akan dengan mudah menemukan China Town atau disebut juga Pecinan, dan dalam bahasa Melayu-Manado disebut Kampung Cina.
Berdasarkan data statistik kependudukan di kota Manado, warga keturunan Tiongkok ada di kisaran lebih-kurang 1,00% dari total populasi kota Manado berdasarkan suku bangsa. Data ini menggambarkan bahwa, secara populatif warga keturunan Tiongkok sangat kecil. Tetapi, sentra-sentra perdagangan di kota ini, mulai dari skala kecil, menengah maupun besar dilakoni oleh mereka.
Hal yang juga lebih menarik adalah dalam ranah politik. Berdasar hasil pemilu legislatif tahun 2019, anggota DPRD kota Manado terpilih yang berasal dari warga keturunan Tiongkok (tidak harus dalam agama leluhur sebagaimana yang sering dipikirkan, karena telah ada perpindahan agama) mereka berhasil mendulang 9 kursi (dari beberapa Partai Politik) atau setara dengan 22,5% kursi di DPRD Kota Manado. Padahal secara populasi, hanya di kisaran 1,00 %.
Data semacam ini dapat kita komparasikan misalnya dengan populasi dan raihan kursi politisi Muslim. Berdasar data statistik kependudukan, populasi Muslim ada di kisaran kurang-lebih 40an% (dengan beragam suku bangsa) dan hanya mampu menghasilkan 9 Kursi DPRD Kota Manado atau setara dengan 22,5% kursi DPRD kota Manado pada pemilu 2019. Padahal kalau ditinjau dari data statistik tersebut, optimalnya, atau potensi politik umat Muslim dapat mencapai setidaknya 12 kursi.
Dalam kasus ini, kita dapat melihat bahwa pada potensi politik, ada kelompok warga yang jumlah populasinya minim, namun dapat menaikkan potensinya. Sementara, ada kekuatan politik yang potensinya justru besar atau lebih dari sepertiga populasi keseluruhan, namun kurang optimal dalam menggarap potensi dimaksud.
Sebagai refleksi dalam bidang politik dan sosial-kemasyarakatan pada umumnya, sesuai judul film ini: apakah Ip Man betul-betul merupakan sebuah akhir?. Menurut saya (belum tentu sama jika menurut anda) ‘semangat’ Ip Man dalam ‘menjaga’ warisan leluhur dan ‘fenomenalnya’ Bruce Lee untuk ‘melebarkan’ warisan leluhur, adalah bukan (sekedar) sebuah akhir. Melainkan ‘akhir’ dari sebuah ‘awal’ menyematkan ‘nomor punggung’ atas eksistensi warga keturunan Tiongkok.
*) Tulisan ini pernah diterbitkan di Tribun Manado (cetak) 21 Januari 2020, dan Tribun Online 22 Januari 2020