04/10/2025
Ini cerita kami,
Kedai Consult & Catoel di MCC Malang
Ketika Malang Creative Center (MCC) pertama kali berdiri megah, suasananya justru sunyi. Gedung yang digadang-gadang sebagai pusat kreativitas itu sempat bagaikan istana kosong—fasilitas lengkap, tapi tanpa denyut kehidupan. Saat itu, hampir tak ada yang berani membuka usaha kuliner di dalamnya. “Untuk siapa? Tak ada pengunjung,” begitu alasan banyak orang.
Di tengah keraguan itu, kami pun tidak serta-merta langsung hadir. Kedai Consult & Catoel lahir melalui proses pencarian panjang. Kami mencari pola, mencari bentuk, mencoba berbagai konsep. Kami bingung menentukan nama, menimbang harga, hingga mencari karyawan yang bersedia bertahan.
Tapi kenyataannya, sepi panjang membuat tenaga kerja kami silih berganti. Banyak yang lelah karena kursi kosong, meja yang tak terisi, dan hari-hari tanpa pembeli. Kadang satu hari hanya ada satu pelanggan, kadang bahkan tak ada sama sekali. Namun kami memilih untuk tidak menyerah. Karena kami percaya, MCC tidak akan selamanya sunyi. Suatu hari, gedung ini pasti akan hidup.
Kami terus membuka pintu. Kami belajar menyeduh kopi dengan harapan, meracik cokelat dan matcha dengan doa, menyajikan soto hangat, katsu renyah, mie geprek pedas, hingga burger khas Naburcok Cokot dengan keyakinan, bahwa setiap piring dan setiap gelas adalah penanda optimisme.
Dan benar, waktu akhirnya menjawab. Perlahan komunitas berdatangan. Acara demi acara digelar. Seniman, musisi, pelaku UMKM, mahasiswa, pebisnis, hingga pejabat mulai memadati ruangan-ruangan MCC. Dari gedung kosong yang dulu diragukan, kini MCC menjelma menjadi insentif nyata dari Pemkot Malang untuk pelaku ekonomi kreatif se-Indonesia—dengan lebih dari 1.000 kegiatan setiap bulan.
Di tengah ribuan aktivitas itu, Kedai Consult & Catoel berdiri menjadi saksi. Di meja kami, ide-ide besar lahir dari obrolan kecil. Kopi kami menemani strategi yang dirancang. Es krim manis kami meredakan lelah panitia, camilan sederhana kami memberi energi bagi yang bekerja hingga larut malam.
Kini kami sadar, keputusan untuk bertahan sejak awal bukanlah kesalahan—melainkan sebuah investasi rasa percaya dan cinta.