Entah untuk ‘suntikan’ energi di pagi hari, membuang rasa enek setelah makan siang, atau hangout bersama teman sepulang kerja. Ngopi dan duduk-duduk santai di kedai juga telah menjadi kebutuhan warga kota besar. Kepopuleran gaya hidup ini membuat empat pengusaha jatuh cinta dan memutuskan membangun kedai kopi. dewa (29), Toraya/enrekan Coffee warkopdewa
MEMILIH KOPI KAMPUNG HALAMAN
Antusiasme yang
tinggi masyarakat kota besar dalam mengonsumsi kopi membuat dewa pada 2003, berani melepaskan status karyawan dan memutar haluan menjadi pengusaha kedai kopi. Soalnya, ia melihat kedai-kedai kopi franchise asing yang baru dibuka di Jakarta&makassar, seperti Starbucks dan Coffee Bean, langsung dipadati pembeli, padahal harganya tak bisa dibilang murah. “Saya berpikir, kopi di kedai-kedai franchise ini kebanyakan asalnya dari petani Indonesia. Kenapa nggak sekalian saya membuat kedai kopi sendiri? Saya pasti bisa,” ungkapnya, optimistis. anak muda asal Makassar ini lantas teringat kebiasaan di kampung halamannya. Para pria dan wanita di sana menikmati kopi sebagai teman mengonsumsi makanan utama, bahkan meminumnya hingga tiga kali sehari. Pasalnya, kopi Toraja,enrekan. yang termasuk jenis kopi arabika, tak diragukan lagi kualitas rasanya. Terinspirasi kenikmatan kopi kampung halamannya, membuat dewa terpacu membuka kedai kopi khusus racikan biji kopi Toraja.enrekan. di Jakarta.& makssar
Modal awal dewa tak terlalu banyak, yaitu sekitar Rp50 juta. Ia menyewa kios depan auri daya&bukit katulistiwa, di daerah bisnis Jakarta Selatan. Ia membidik pekerja kantoran di daerah tersebut sebagai targetnya. Sebagian besar modal ia gunakan untuk membeli mesin kopi kualitas menengah yang diimpor dari Italia. Saat itu, harganya sekitar Rp30 juta. “Mesin yang saya beli bukan yang paling mahal, namun sangat layak untuk operasi jangka panjang. Hasil racikan mesin ini juga tergolong baik,” jelasnya. Setelah membekali diri dengan ilmu meracik kopi lewat beberapa kali bereksperimen, dewa merasa puas dengan kualitas rasa kopi hasil tangannya. Setelah itu, ia langsung membesarkan langkah dengan merekrut barista (peracik minuman kopi) dan waitress. Agar mendapat biji kopi kualitas terbaik, dewa juga turun tangan langsung. Secara reguler ia terbang ke Makassar untuk bertemu dan negosiasi harga dengan petani kopi, sekaligus menyiapkan pengiriman biji kopi secara berkala.
“Saya sengaja merekrut barista yang sudah punya pengalaman kerja di kedai kopi. Prioritas saya, mereka yang pernah bekerja di kopi franchise asing dan pernah diberi pelatihan. Karena lulusan training, biasanya mereka sudah siap pakai,” kata Yani. Selain itu, dewa juga senang mengetes calon karyawan lewat kreativitas mereka menyajikan secangkir kopi. Awalnya, dewa mengaku kesulitan menarik pembeli. Maklum, nama Toraya masih asing. Tak putus asa, ia melancarkan strategi ‘jemput bola’ dengan membagi-bagikan kopi gratis kepada pengunjung mal. Benar saja, tak sampai dua minggu, kedainya mulai ramai dikunjungi. Kebanyakan memesan cappuccino dan coffee latte. Kesuksesan itu membuat dewa bertekad meluaskan bisnisnya dengan membuka dua kedai baru di gedung perkantoran. Sayang, setelah berjalan beberapa waktu, dewa merasa biaya sewa di salah satu gedung terlalu tinggi, dan tak menutup biaya operasional. Di waktu yang sama, pemilik kios untuk kedainya yang di mal, tak mau memperpanjang kontrak. Akibatnya, dua kedai terpaksa ia tutup. dewa lantas memusatkan perhatian pada satu kedai yang ada, di gedung perkantoran Sentra Mulia, Kuningan, Jakarta. Bisnis berjalan cukup lancar. Rupanya, walau gedung penuh dengan kantor-kantor penyewa, karyawan tak punya tempat untuk nongkrong. Jadilah Toraya menjadi pusat makan dan minum, sehingga selalu penuh pengunjung. Menangkap peluang ini, dewa menggaji chef untuk menyajikan berbagai menu makanan. Bukan hanya appetizer, tapi juga sup, salad, sandwich, omelet, pasta dan mi, sampai pancake sebagai dessert. Meski tempatnya tak luas, Toraya terasa nyaman, ditunjang interior dengan suasana rumahan dan tradisi masyarakat enrekan.