05/02/2021
Sore tadi setelah hujan, di halaman belakang warung (/ruang outdor) kami menyaksikan dua ekor capung jenis Pantala flavescens (Globe Skimmer), sudah lama rasanya menyaksikan ini.
Seperti membuka ingatan masa kecil, dulu senang sekali bermain dengan serangga terbang pertama di dunia ini, mengejar, atau diam2 menerkam dengan dua ujung jari, hingga memakai sebilah bambu dengan ujung plastik atau lem getah.
Kini kami paham, ternyata keberadaan Dragonfly sebagai penanda ekosistem masih terjaga baik.
Capung memiliki peran penting terhadap lingkungan dan kehidupan manusia, meski hewan kecil tapi menjadi indikator air bersih. Menurut Wahyu Sigit, Ketua Indonesia Dragonfly Society, capung tak bisa hidup di sembarang perairan.
Serangga ini harus hidup di air bersih. Karena itu, jika di suatu sumber air tak ditemukan capung, petanda sumber air itu sudah tercemar dan ekosistemnya terganggu.
Kehidupan capung memang tidak dapat dipisahkan dari air. Sebelum menjadi capung dewasa, capung hidup sebagai serangga air (nimfa) selama beberapa bulan atau beberapa tahun. Hewan itu hanya dapat bertahan hidup di dalam air yang bersih dan tidak tercemar.
Itu artinya capung menjadi penentu apakah air bersih atau tidak. Capung juga berperan sebagai pemangsa dan penyeimbang alami hama tanaman.
Jika di sekitar rumah kita masih menemukan capung, bersyukurlah, berarti kehidupan di sana masih alami dan bersih. Sebaliknya, jika kita jarang menemukan capung, ini menjadi tanda, bisa jadi ada pencemaran dilingkungan tsb.
Salam