04/07/2019
SEJARAH GERABAH BAYAT
Kisah kerajinan gerabah Bayat tak jauh dari nama Ki Pandanaran atau yang disebut juga Ki Tembayat atau Pangeran Mangkubumi, yang merupakan tokoh penyebar Islam di Jawa selatan. Ki Pandanaran adalah putra Ki Ageng Pandan Arang, bupati pertama Semarang.
Saat ia menggantikan ayahnya memimpin Semarang, Ki Pandanaran mulai melalaikan ajaran-ajaran Islam sehingga Sunan Kalijaga diutus untuk membimbingnya kembali. Atas saran Sunan Kalijaga, Ki Pandanaran melakukan perjalanan sampai ke wilayah yang sekarang Kecamatan Bayat.
Konon setibanya di Bayat ia diikuti seorang perampok. Singkat cerita, setelah tahu bahwa yang dirampoknya Ki Pandanaran, si perampok memohon ampun dan bertobat. Si perampok diangkat menjadi murid dan diperintahkan membuat gentong air wudhu dengan bahan tanah merah khas Bayat. Itulah gerabah.
Naungan Ratusan Warga Bayat
Sebuah gapura sentra gerabah berdiri di Dukuh Pagerjurang, Desa Melikan, Kecamatan Bayat menjadi pintu masuk. Sejauh satu kilometer mata akan disuguhi pemandangan kerajinan gerabah di kiri kanan jalan.
Selama berabad usaha kerajinan gerabah terus tumbuh di Kecamatan Bayat. Kini sentranya terletak di Desa Melikan. Ratusan warga di sana mewarisi kelihaian membuat kerajinan gerabah. Hampir seluruh warga menggantung kan hidupnya dari usaha kerajinan berbahan tanah liat tersebut.
Semua terbentuk alami, bahkan industrialisasi kerajinan gerabah itu sendiri. Rumah-rumah di gang-gang kecil di Desa Melikan selalu ramai dengan kegiatan membuat gerabah. Cerobong-cerobong besar ada dimana-mana. Sedang di ruas jalan utama, berjajar toko-toko yang menjajakan gerabah sebagai oleh-oleh.
Pembagian kerja tersebut berlangsung lama. Satu dan lainnya saling menopang. Bahkan hampir semua warga selalu sibuk dengan pesanan. โKalau ada pesanan ya bisa sampai larut malam, semua anggota keluarga ikut membantu. Tapi kalau tengah sepi kita tetap membuat gerabah untuk mengisi waktu luang,โ ungkap salah seorang warga perajin.
Dalam sehari rata-rata satu rumah di Desa Melikan menghasilkan puluhan kerajinan gerabah mulai dari piring, mangkok, gelas, vas bunga, guci, dan lain sebagainya. Harga yang ditawarkan terbilang cukup murah kisaran ribuan hingga jutaan tergantung bentuk, ukuran, dan tingkat kesulitannya.
Tanah Merah dan Teknik Putar Miring
Hampir seluruh warga Desa Melikan mampu membuat gerabah. Sayangnya, banyak anak muda di desa tersebut yang memilih merantau ke kota.
Selain berjalan sebagai industri, Bayat merupakan surga riset khusus gerabah dan keramik. Hal tersebut bukan tanpa alasan. Alasan pertama, Tuhan menganugerahi tanah merah di kecamatan tersebut yang menurut sifatnya relatif mudah dibentuk dan lebih kuat saat proses pembakaran.
Kedua, penemuan teknik putar miring yang menjadi kekhasan gerabah Bayat. Dengan teknik pembuatan manual tersebut, lekukan gerabah lebih kentara. Teknik putar miring juga memudahkan para perajin untuk membuat segala macam bentuk kerajinan.
Dua hal besar itu sempat menarik seorang profesor dari Jepang yang tinggal lama di Melikan. Lewat sang profesor berbagai riset ditemukan dan pusat penelitian gerabah di Melikan pun didirikan. โSaya banyak tanya ke pembeli, katanya kualitas gerabah di sini memang berbeda. Kalau bikinnya tak asal-asalan, bisa awet hingga puluhan tahun,โ ungkap salah seorang penjual gerabah.
Pemerintah Kabupaten Klaten pun memberikan fasilitas guna membuat Desa Melikan, Bayat sebagai Desa Wisata Gerabah. Selain itu, sekolah seni kriya juga didirikan di Bayat. Kecamatan di sisi selatan Kabupaten Klaten tersebut akan seketika ramai saat lebaran. Diakui para perajin, omzet mereka bisa meningkat dua kali lipat saat libur lebaran.
Semoga Bermanfaat. ๐น