18/03/2021
"....TAK SERIBET DAN TAK SEJELEK KOPIMU"
Setahun belakangan ini pertumbuhan coffee shop / kedai ngopi di kota kendari terbilang cukup massif. Dari yang sifatnya high class hingga ekonomis, yang sifatnya high class biasanya ditandai dengan desain interior ruangan serta furniture yang terkemuka dibidangnya. Kemudian disandingkan dengan alat-alat kopi yang harganya puluhan hingga ratusan juta rupiah ( khususnya pada grinder dan mesin espresso). Sementara yang sifatnya ekonomis tak nampak begitu banyak ( nyaris tak ada ) merk dagang terkenal sebagai pelengkap di ruang ngopi mereka. Alat-alat kopi yang sifatnya manual masih menjadi pilihan utama sebagai peralatan tempur di meja bar.
Kalau ngopi di tempat yang mewah pastilah dompet anda harus tebal (bukan karena kartu atm expired atau kertas-kertas tak berguna lainnya). Sehingga kita dapat menyimpulkan bahwa orang yang ngopi di tempat tersebut bukanlah orang yang hari-harinya masih memikirkan apakah masih ada stok garam di dapur ?. Hehehehe
Tapi yang menarik, di kedai-kedai level kaki lima pun juga tak sedikit orang-orang yang kelebihan duit mampir untuk menyeruput kopi buatan para barista jalanan. Bahkan sampai meluangkan waktu khusus untuk hal itu.
Ini menandakan bahwa alat semahal apapun bukanlah jaminan kalau kopi kita akan digemari semua orang. Sebab kopi tak bisa di standarisasi pada lidah yang satu kemudian masuk pada lidah yang lain.
Mungkin diantara kita ada yang pernah pulang kampung lalu membawa beberapa gram beans kopi yang menurut kita enak, atau katakanlah pernah juara kontes kopi specialty Indonesia. Ketika kita seduh dengan cara yang sangat profesional, airnya tak lewat se-milli-pun dan kopinya tak lewat se-gram-pun. Setelah kakek kita seruput sedikit, eehhhh... Dia malah ke dapur cari bubuk kopi robusta yang ditanam di belakang rumah dan di sangrai menggunakan wajan tanah liat, lalu kopinya dia masukkan kedalam cangkir sebanyak dua sendok teh, tambah gula dua sendok teh kemudian tuangkan air panas secukupnya. Sembari berjalan ia bawa kopi hasil seduhannya ke depanmu lalu berkata "INILAH KOPI YANG ENAK, TAK SERIBET DAN TAK SEJELEK KOPIMU"
ini bukan berarti kopi yang juara kontes tadi itu jelek. Hanya saja selera si kakek tak seperti selera para Q grader dan lidah orang-orang yang terbiasa meminun kopi specialty.
Kopi itu tak ada yang tidak enak, semuanya enak apabila dipasangkan dengan lidah yang cocok. Jadi kurang tepat apabila kita mengatakan kopi ini enak atau kopi ini tidak enak. Cukup katakan s**a pada kopi tersebut atau kurang s**a pada kopi tersebut, sebab ada kemungkinan orang yang s**a lebih banyak ketimbang orang yang tidak s**a..
Wua-wua, kota Kendari, 18 Maret 2021