22/04/2026
Leyeh-leyeh karo nunggu umupe ngodok banyu kari golek gulo kopine..
Kipas-kipas....
Bercermin Di Air Keruh
Sejenak menundukkan kepala,
merenungi perjalanan hidup yang
selama ini kita lalui. Ada s**a ada
duka, ada tangis ada-pula tawa.
Sejauh perjalanan tentang laku
diri.
Pernahkah atau sering-kali kah
kita introspeksi diri ?
Hari ini yang kita jalani, apakah
lebih baik dari hari kemarin ?
Hari besok apakah akan lebih baik
dari hari ini ? Ataukah kita
termasuk orang-orang yang
merugi ?
Atau jangan-jangan kita termasuk
orang yang celaka ?
Mari bercermin pada hati, tak
perlu kita menilai orang lain.
Rumput tetangga memang selalu
hijau, dan arah pandang kita selalu
ke-atas. Seolah kita khawatir
dengan kehidupan dan melalaikan
kematian.
Kuman di seberang lautan
nampak, gajah di pelupuk mata
tak nampak.
Begitu pandai kita melihat
kesalahan orang-orang di
sekeliling kita. Sekecil apapun
sebuah kesalahan yang di ungkap
di muka umum akan
menggelinding membesar seperti
bola salju.
Sementara perilaku salah kita, kita
sah-kan lewat pembenaran
Buruk muka, cermin di belah
Kita selalu meng-kambing hitam-
kan orang lain karena kesalahan
yang di perbuat sendiri. Padahal
kita tahu cermin akan
memantulkan bayangan nyata
“siapa kita sebenarnya”.
Jari menunjuk, Kelingking terkait.
Begitu mudah menjatuhkan
tuduhan bahwa orang lain tak
benar, walau sesungguhnya
kelingking terkait menunjukkan
“siapa diri kita sebenarnya” di
mata orang lain.
Lempar batu, sembunyi tangan.
Kita yang berbuat salah, tapi
mengalihkan kepada orang. Seolah
diri adalah malaikat yang tak
berdosa. Kita makan nangkanya,
orang lain dapat getahnya.
Bercerminlah pada hati, jangan
bercermin di air keruh.
Semoga dan semOga...