25/06/2024
JANDAKU CANDUKU
Delapan tahun kemudian.
"Aku bersedia menikahimu dan menjadi ayah dari ana-anakmu, Jingga ...."
Rasanya seperti kemarin sore, Jingga mendengar suara malaikat penolong di dalam hidupnya. Pria baik hati yang selalu ditolaknya di kampus malah menawarkan diri menikahinya dan mau bertanggung jawab, meskipun dirinya dalam keadaan hamil.
Namun, usia pernikahan mereka hanya bertahan satu pekan saja. Bahkan mereka belum melakukan malam pertama sama sekali karena Jingga masih trauma. Selain itu sang suaminya tersebut meninggal karena sebuah kecelakaan tabrak lari, hingga statusnya pun menjadi seorang janda.
Jingga merasa dunia kembali kejam kepadanya karena dirinya hanya mendapatkan kebahagiaan sekejap saja. Selebihnya ia harus kembali kesusahan dengan melahirkan dan membesarkan kedua anaknya seorang diri karena mendiang suaminya pun tidak mempunyai orang tua lagi arau pun kerabat dekat.
Selain itu Jingga pun kesusahan karena anaknya yang kedua mempunyai penyakit serius dan membuatnya banting tulang mencari uang untuk pengobatan putranya.
Namun, dalam keadaan sulit, Jingga tidak melupakan kuliahnya yang mendapatkan beasiswa dari universitas hingga lulus dengan nilai bagus. Meskipun pada kenyataannya lulus terlambat dari yang lainnya.
"Ibu, Raven. Gak habiskan makanannya lagi tuh," celetuk Ruby, si kembar yang lahir pertama.
Jingga yang sedang melamun itu mengerjapkan matanya, lalu beralih mengaduk sup di depannya dan menatap putrinya itu.
"Ah, iya. Kenapa, Ruby? Raven ayo, habiskan makanannya. Kau harus minum obat, sayang," ucapnya.
"Aku gak mau minum obat, Bu. Aku gak mau! Kenapa aku harus sakit dan diejek teman terus di sekolah. Gak bisa main bola seperti yang lainnya." Raven terisak di depan ibunya.
Hati Jingga rasanya teriris mendengar ungkapan hati putranya itu. Air matanya perlahan menetes di balik kaca matanya, meskipun susah payah dibendungnya sejak tadi. Jika harus memilih ia lebih rela rasa sakit anaknya itu cukup untuk dirinya saja dan biarkan putranya itu sehat.
"Maafkan, Ibu, Raven. Maaf," lirih Jingga sambil mengelap cepat air matanya. Ia tidak boleh menunjukkan wajah sedihnya di depan kedua anaknya. "Ibu janji tidak lama lagi kau akan sehat dan bisa bermain bebas seperti teman-temanmu. Tolong menunggu sebentar ya, sayang" tambahnya dengan senyuman tulus.
Jingga tahu ada cara yang lebih baik untuk pertama agar bisa sehat, yaitu operasi. Tapi, itu membutuhkan uang yang cukup besar dan tabungannya belum mencukupi.
Raven menatap ibunya dengan tatapan tanda tanya besar. "Tapi, kapan, Bu? Aku gak mau bolak-balik rumah sakit terus. Aku benci rumah sakit ...."
"Secepatnya ya, Raven. Ibu mau hari ini mau ada wawancara di perusahaan besar. Do'akan biar diterima dan ibu bisa kumpulkan uang banyak untuk mengobatimu," kata Jingga dengan semangat. Ia sebelumnya sudah melamar dan lolos tahap administrasi.
"Aamiin, semoga Ibu diterima dan aku bisa dibelikan makanan enak," celetuk Ruby. Si paling ceria, cerdas dan selalu bisa diandalkan di usianya yang baru tujuh tahun.
Jingga tertawa kecil mendengar celetukan Ruby. Putrinya yang menginjak SD itu lebih dewasa dari umurnya. Bahkan sudah pandai memasak nasi dan makanan ringan sekedar untuk makannya sendiri. Salah satu penyemangat dan kekuatan dalam hidupnya.
"Ibu mungkin pulang terlambat. Sehabis pulang sekolah kalian jangan ke mana-mana dan langsung pulang ke rumah. Terutama kau Ruby, tolong jaga adikmu untuk ibu, ya," ucap Jingga sembari mengelus rambut panjang putrinya. Rambut yang sama indahnya dengan dirinya.
"Siap, Ibu. Tapi, pulang nanti ibu belikan kami pizza ya," nego Ruby.
Jingga kembali tertawa dengan cara Ruby yang selalu tawar menawar dengannya.
"Iya, sayang. Ayo habiskan makanannya. Sebentar lagi bis sekolahnya datang," tukas Jingga sembari melihat satu persatu kedua anaknya tersebut. Tidak terasa mereka tumbuh dengan begitu cepatnya. Padahal dulu masih bayi dan masih ia suapi. Tapi, kini lihatlah betapa mandirinya mereka.
Usai sarapan, tidak lama kemudian bis sekolah yang mengantar jemput si kembar itu datang.
Jingga mengantar sampai mereka masuk ke kendaraan roda empat tersebut, lalu melambaikan tangannya di saat mobil itu menjauh.
Setelahnya Jingga yang sudah memakai setelan kemeja putih dan rok hitam selutut, menemui ibu kontrakan rumahnya dan mengatakan akan melamar kerja kembali. Selain itu menitipkan si kembar jika pulang dari sekolah.
"Kau jangan khawatir soal si kembar, Jingga. Mereka sudah seperti cucuku sendiri. Hati-hati lah di jalan dan semoga hari ini kau diterima," ucap ibu kontrakan, Bu Put.
"Iya, makasih, Bu. Aku bahkan masih merepotkan ibu sampai sekarang," ucap Jingga dengan mata berkaca di balik kaca matanya itu. Bu Put adalah orang kedua yang merangkulnya ketika sang suami meninggal dan sejak itulah dirinya tinggal di kontrakan tersebut yang berada di pinggiran Ibu kota.
Setelah pamit dengan Bu Put, Jingga segera ke halte dan segera naik begitu bis-nya datang.
Sepanjang perjalanan itu, Jingga terus menghapalkan apa saja yang akan dikatakannya ketika wawancara nanti. Ia berharap kali ini mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari sebelumnya dan mendapatkan gaji yang lebih besar.
Tidak sampai satu jam bis itu berhenti di halte dekat sebuah gedung berlantai tiga puluh dan bertuliskan R.D motors, perusahaan yang bergerak di pembuatan mobil mewah dan barang elektronik rumah tangga.
Jingga menarik napasnya dalam-dalam, lalu dengan langkah mantap melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung tersebut.
Setibanya di dekat lift, Jingga harus sedikit bersabar karena nyatanya penuh dan harus berganti ke lift yang lain.
"Tu-tunggu." Jingga dengan setengah berlari menuju pintu lift lain yang hampir tertutup. Beruntungnya ia bisa masuk ke lift tersebut karena seorang pria menekan tombol, sehingga pintunya terbuka lebar kembali.
"Terimakasih banyak, Tuan," ucap Jingga seraya berdiri merapat ke dinding lift yang berada di belakang. Sementara di depannya ada dua pria dengan setelan jas hitam.
Jingga sama sekali tidak tahu jika lift itu sebenarnya diperuntukkan untuk karyawan eksekutif dan terutama untuk pimpinan perusahaan.
Ya, siapa lagi kalau bukan Xabiru.
Pria dengan rahang tegas dan bahu lebar itu langsung bisa mengenali wanita yang saat ini berada di belakangnya. Meskipun Jingga saat ini memakai kacamata dan berbeda dengan wanita yang dulu pernah tidur dengannya, tapi aroma tubuh yang khas itu masih tetap melekat dalam ingatannya sampai saat ini. Lalu, siapa sangka kini ada di depannya matanya setelah sekian tahun.
"Apa kau karyawan baru di sini?" tanya Xabiru tanpa menoleh.
Jingga mengerjap. Ia sesaat tidak sadar jika pertanyaan itu ditujukan kepadanya.
"Maksudnya aku, Tuan? Ah, iya. Eh bukan. Aku belum karyawan di sini. Aku ada wawancara di lantai lima," terang Jingga dengan mata berbinar.
Di saat yang sama pintu lift terbuka di lantai lima. Jingga segera keluar dari lift tersebut.
"Semoga beruntung, Nona," tukas Xabiru sebelum pintu lift-nya benar-benar tertutup.
Jingga tersenyum mendengar ada yang menyemangatinya di pagi itu dan melangkahkan kakinya menuju ke sebuah ruangan yang mana dua kandidat pelamar lainnya sudah berada di sana.
Sementara itu, Xabiru yang baru saja keluar dari lift masih terbayang dengan wanita baru yang dilihatnya tadi.
"Red, mungkin wanita tadi salah satu pelamar sekretarisku?" tanya Xabiru kepada asisten pribadinya, Red.
Keduanya masuk ke ruangan kerjanya.
"Iya, Tuan. Anda sepertinya belum melihat fortofolio tentang Nona Jingga," terang Red.
"Oh, namanya Jingga," gumam Xabiru. "Akan kuperiksa sekarang ...." Xabiru pun mengambil lembaran file tentang tiga pelamar yang akan diwawancarainya sebentar lagi.
Mata elang Xabiru langsung berpusat pada indentitas Jingga, terlebih lagi latar belakang wanita tersebut.
"Jadi dia janda anak dua ... Menarik ...."
Penasaran dengan lanjutannya?
Langsung ke aplikasi FIZZO
Atau klik link di bawah ini 👇👇
https://www.fizzo.org/page/share/?bid=7756531046497123581&isNew=1&from=whatsapp&group=2&d=7713898710805968637&u=7861015335806661885&language=id®ion=ID