Abbasy.al

Abbasy.al Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Abbasy.al, Fast food restaurant, kavling agraria No. 69 Durensawit Jakarta Timur, Jakarta.

17/08/2021

DALAM RANGKA MEMPERINGATI HARI KEMERDEKAAN INDONESIA, KALI INI GUE MAU MUKBANG BURGER DARI ABBASY.ALBURGER DENGAN SENSASI RASANYA SIAP MENGGOYANG LIDAH KALIAN, UNTUK PEMESANAN BISA MELALUI GRABFOOD, GOFOOD DAN SHOPEE FOOD, JADI TUNGGU APALAGI SEGERA DIPESAN BROO.

JANGAN LUPA FOLLOW DAN KEPOIN IG : .alburger

yang sudah menonton video gue ucapin makasih ya, bantu subscribe, like, comment dan share thank you

Fanspage : porsimkn
Youtube : porsi makan
Email : [email protected]














♥️♥️♥️♥️♥️😍😍😍😍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍♒⏭️♒⏭️♒⏭️♒⏭️♒⏭️♒⏭️♒♒♒♒♒♒♒♒♒♒♒♒♒💓💓💓💓

Di masa PPKM ini pesan makanan dari rumah lebih mudah dengan Grabfood dan Gofood Nikmati DISCOUNT UP TO 40 % untuk all V...
22/07/2021

Di masa PPKM ini pesan makanan dari rumah lebih mudah dengan Grabfood dan Gofood
Nikmati DISCOUNT UP TO 40 % untuk all Varian Burger dan Kebab Khas Abbasy.alburger

••┈──••┈•••●✿●•••••┈──••┈⠀*SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA 1442 H*⠀تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ، وَأَحَالَهُ اللَّهُ ...
20/07/2021

••┈──••┈•••●✿●•••••┈──••┈⠀
*SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA 1442 H*⠀

تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ، وَأَحَالَهُ اللَّهُ عَلَيْك

Taqabbalallahu minna waminkum wa ahalahullahu 'alaik

"Semoga Allah menerima (amalan) dari kami dan darimu sekalian dan semoga Allah menyempurnakannya atasmu."

Promo diskon 40% ya gaes...Yuuk sudah tersedia di Gofood dan Grabfood
19/07/2021

Promo diskon 40% ya gaes...
Yuuk sudah tersedia di Gofood dan Grabfood

Kitab :Mutun thalibul ilmi (Dzikir dan Adab)Penulis: Syaikh Dr. Abdul Muhsin Al Qasim (imam dan khatib masjid Nabawi)(KE...
30/07/2019

Kitab :Mutun thalibul ilmi (Dzikir dan Adab)
Penulis: Syaikh Dr. Abdul Muhsin Al Qasim (imam dan khatib masjid Nabawi)

(KEUTAMAAN MENUNTUT ILMU)

قال النبيُّ ﷺ : (مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا ؛ سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ)

Nabi Muhammad ﷺ bersabda: “Barang siapa yang menempuh sebuah jalan untuk menuntut ilmu (agama), maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju Syurga” (HR. Muslim: 2699, Abu Daud: 3643, Ibnu majah:225, Ad darimi: 356, Ahmad: 7427)

Sobat muslim -ُرَحِمَكُمُ الله-,
Tidak diragukan lagi bagi seorang muslim yang menuntut ilmu, akan di mudahkan Allah untuk masuk Syurga. Yang menjadi pertanyaan kita adalah “kok bisa?” Tentu saja bisa, karena seorang yang belajar agama akan mengetahui batasan-batasan Allah dan Rasul-Nya. Ketika datang perintah maka ia kerjakan dan apabila ada larangan ia pun menjauhinya. Setelah ia mengamalkan hal tersebut maka Allah akan cinta padanya, lalu Ia pun memasukkannya ke Syurga dengan Rahmat-Nya. Mudah-mudahan kita termasuk ahli syurga.

“KEUTAMAAN MAJELIS ILMU”

قال النبيُّ ﷺ: (وَ مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ، وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ ؛ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ)

Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
“Tidaklah sebuah kaum berkumpul pada sebuah rumah dari rumah-rumah Allah untuk membaca Al Qur’an dan saling mempelajarinya, kecuali akan turun pada mereka ketenangan, diliputi Rahmat (kasih sayang), dikelilingi para malaikat dan Akan disebut Allah nama-nama mereka di hadapan para penghuni langit”
(HR. Muslim: 2699, Abu Daud: 1455)

Saudaraku se iman -ُرَحِمَكُمُ الله-,
Dengan duduk di majelis ilmu kita akan mendapat 4 perkara yang di sebutkan di dalam hadist tersebut. Ketenangan, Rahmat, dikelilingi para malaikat dan terkenal di langit adalah hal yang tidak didapati pada selain majelis yang berisikan firman Allah. Seorang akan sangat bahagia bila dikenal oleh gubernur atau presiden. Namun kebahagian dikenal mereka, tidak sebanding dengan kebahagiaan dikenal oleh pencipta langit dan penduduknya.
Mari ramaikan majelis ilmu !!!
Jangan sia-siakan warisan Nabi kita!!
اللّٰهُمَّ يَسِّرْ سَيْرَنَا إِلىٰ مَجَالِسِ العِلْمِ
“Ya Allah, mudahkanlah langkah kami menuju mejelis ilmu”

Kitab :Mutun thalibul ilmi (Dzikir dan Adab)
Penulis: Syaikh Dr. Abdul Muhsin Al Qasim
(imam dan khatib masjid Nabawi)

Al Firqotun Najiyah
https://t.me/al_firqotunnajiyah

◾ Jika Allah Berpaling Dari Hamba ◾Allah 'Azza wa Jalla berfirman : "Maka ketika mereka berpaling, Allah pun memalingkan...
27/07/2019

◾ Jika Allah Berpaling Dari Hamba ◾

Allah 'Azza wa Jalla berfirman : "Maka ketika mereka berpaling, Allah pun memalingkan hati mereka..." (QS. Ash-Shof [61]: 5)

Maka Dia pun akan membiarkan hamba itu berbuat keburukan, tidak ada pertolongan dari-Nya serta juga tidak ada perlindungan dari-Nya. Allah akan menyibukkannya dengan urusan dunia, anak-anak, perniagaan, harta, mengejar karir, pangkat, jabatan dll.

Hasan al-Bashri رحمه الله berkata :
"Di antara tanda berpalingnya Allah 'Azza wa Jalla dari hamba adalah Dia menjadikan kesibukan hamba dalam perkara yang tidak bermanfaat, sebagai bentuk penghinaan terhadapnya" (Jaami'ul 'Uluum I/294)

Imam al-Utsaimin رحمه الله berkata :
"Jika engkau melihat seseorang dilapangkan Allah kemaksiatannya dan Allah menjaganya dari kesusahan, serta semakin dilimpahkan kenikmatannya, ketahuilah bahwasannya Allah menginginkan kejelekan dengannya, karena Allah mengakhirkan siksa dari-Nya sehingga dipenuhkan siksaannya di hari Kiamat" (Syarah Riyadhus Shalihin 1/258)

✍ Ustadz Najmi Umar Bakkar

Semoga bermanfaatOh ya jangan Lupa follow IG .al ya...
24/07/2019

Semoga bermanfaat

Oh ya jangan Lupa follow IG .al ya...


24/07/2019

Futur artinya rasa malas dan lemah setelah sebelumnya ada masa rajin dan semangat.
Penyakit futur dan malas banyak menjangkiti orang-orang yang menuntut ilmu agama dan juga orang-orang yang berusaha menapaki jalan kebenaran. Bagaimana solusinya?

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin pernah ditanya, “banyak penuntut ilmu agama yang lemah tekadnya dan futur dalam menuntut. Sarana apa saja yang dapat membangkitkan tekad dan semangat dalam menuntut ilmu?“. Beliau menjawab:

***

Dha’ful himmah (tekad yang lemah) dalam menuntut ilmu agama adalah salah satu musibah yang besar. Untuk mengatasi ini ada beberapa hal:

1. Mengikhlaskan niat hanya untuk Allah ‘Azza Wa Jalla dalam menuntut ilmu

Jika seseorang ikhlas dalam menuntut ilmu, ia akan memahami bahwa amalan menuntut ilmu yang ia lakukan itu akan diganjar pahala. Dan ia juga akan memahami bahwa ia akan termasuk dalam tiga derajat manusia dari umat ini*), lalu dengan itu semangatnya pun akan bangkit.

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ

“Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid” (QS. An Nisa: 69)

2. Selalu bersama dengan teman-teman yang semangat dalam menuntut ilmu

Dan teman-teman yang dapat membantunya dalam berdiskusi dan meneliti masalah agama. Jangan condong untuk meninggalkan kebersamaan bersama mereka selama mereka senantiasa membantu dalam menuntut ilmu.

3. Bersabar, yaitu ketika jiwa mengajak untuk berpaling dari ilmu

Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini” (QS. Al Kahfi: 28)

Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.

22/07/2019

PENTINGNYA BELAJAR TAUHID



Kenapa penting belajar tauhid?

Ada delapan alasan:



Pertama:

Karena Allah menciptakan kita untuk mentauhidkan-Nya.

Dalam ayat disebutkan,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56). Kata para ulama, maksud beribadah kepada Allah adalah mentauhidkan Allah, berarti hanya beribadah kepada Allah semata, tidak boleh Allah disekutukan.

As-Sudi rahimahullahmengatakan bahwa ibadah itu ada yang bermanfaat dan ada yang tidak bermanfaat. Orang-orang musyrik mengenal Allah namun tidak bermanfaat karena mereka masih menyekutukan Allah atau berbuat syirik. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7:38)



Kedua:

Syarat masuk surga haruslah bertauhid.

Dari ‘Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ، وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ وَكَلِمَتُهُ ، أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ ، وَرُوحٌ مِنْهُ ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ ، أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ

“Barangsiapa bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya; begitu juga bersaksi bahwa ‘Isa adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, serta kalimat-Nya (yaitu Allah menciptakan Isa dengan kalimat ‘kun’, -pen) yang disampaikan pada Maryam dan ruh dari-Nya; juga bersaksi bahwa surga dan neraka benar adanya; maka Allah akan memasukkan-Nya dalam surga apa pun amalnya.” (HR. Bukhari, no. 3435 dan Muslim, no. 28)

Dalam lafazh Muslim disebutkan,

أَدْخَلَهُ اللَّهُ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةِ شَاءَ

“Allah akan memasukkannya ke pintu surga mana saja dari delapan pintu yang ia s**a.”

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

مَنْ مَاتَ لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ

“Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak berbuat syirik pada Allah dengan sesuatu apa pun, maka ia akan masuk surga. Barangsiapa yang mati dalam keadaan berbuat syirik pada Allah, maka ia akan masuk neraka.” (HR. Muslim, no. 93)



Ketiga:

Tauhid adalah sebab dihapuskannya dosa (kesalahan).

Dalam hadits qudsi dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, Allah Ta’alaberfirman,

يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِى بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِى لاَ تُشْرِكُ بِى شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

“Wahai anak Adam, jika engkau mendatangi-Ku dengan dosa sepenuh bumi kemudian engkau tidak berbuat syirik pada-Ku dengan sesuatu apa pun, maka Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi itu pula.” (HR. Tirmidzi, no. 3540. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)



Keempat:

Tauhid adalah sebab datangnya ketenangan.

Ketenangan ini bisa dengan tawakkal penuh kepada Allah dan itu adalah bentuk tauhid.

Allah Ta’alaberfirman,

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)

Orang yang bergantung kepada Allah akan mendapatkan ketenangan karena Allah akan tolong dan beri kecukupan, beda halnya kalau ia bergantung kepada manusia yang fakir.

Dalam hadits disebutkan,

مَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ

“Barangsiapa yang mencari ridha Allah saat manusia tidak s**a, maka Allah akan cukupkan dia dari beban manusia. Barangsiapa yang mencari ridha manusia namun Allah itu murka, maka Allah akan biarkan dia bergantung kepada manusia.” (HR. Tirmidzi, no. 2414. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)



Kelima:

Amalan tidaklah diterima sampai seseorang bertauhid.

Allah Ta’alaberfirman,

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Ibnu Katsir rahimahullahmenjelaskan, “Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih”, maksudnya adalah mencocoki syariat Allah (mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen.). Dan “janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya”, maksudnya selalu mengharap wajah Allah semata dan tidak berbuat syirik pada-Nya. Inilah dua rukun diterimanya ibadah, yaitu harus ikhlas karena Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5:201-202)



Keenam:

Tauhid sebab digandakannya kebaikan atau berlipatnya pahala.

Allah menyebutkan tentang sedekah,

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261)

Ibnu Katsir menerangkan mengenai ayat “Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki”, maksudnya adalah tergantung kepada keikhlasannya. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2:261)



Ketujuh:

Tauhid sebab hidayah dan rasa aman.

Allah Ta’alaberfirman,

الَّذِينَ آَمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82).

Ketika turun ayat tersebut, para sahabat pun menanyakan pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka berkata,

أَيُّنَا لاَ يَظْلِمُ نَفْسَهُ

“Siapa yang tidak menzalimi dirinya sendiri?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamlantas berkata,

لَيْسَ هُوَ كَمَا تَظُنُّونَ إِنَّمَا هُوَ كَمَا قَالَ لُقْمَانُ لاِبْنِهِيَا بُنَىَّ لاَ تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Itu bukan seperti yang kalian sangkakan. Yang dimaksud dengan zalim di situ adalah seperti perkataan Lukman pada anaknya, “Wahai anakku, janganlah engkau berbuat syirik pada Allah karena syirik adalah kezaliman yang amat besar.“ (HR. Bukhari, no. 4776 dan Muslim, no. 124).

Ibnu Katsir rahimahullahmenyatakan tentang surah Al-An’am ayat 82, “Mereka adalah orang yang memurnikan ibadah hanya untuk Allah, tidak berbuat syirik pada-Nya. Mereka tidak berbuat syirik sedikit pun. Balasannya, mereka mendapatkan rasa aman pada hari kiamat dan mendapatkan petunjuk di dunia dan akhirat.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 3:569)



Kedelapan:

Tauhid adalah sebab mendapatkan syafa’at Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuberkata, ada yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يا رسولَ اللهِ ، مَن أسعَدُ الناسِ بشَفاعتِك يومَ القيامةِ ؟ قال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم : لقد ظنَنتُ – يا أبا هُرَيرَةَ – أن لا يَسأَلَني عن هذا الحديثِ أحدٌ أولَ منك ، لمِا رأيتُ من حِرصِك على الحديثِ ، أسعَدُ الناسِ بشَفاعَتي يومَ القيامةِ ، مَن قال لا إلهَ إلا اللهُ ، خالصًا من قلبِه ، أو نفسِه.

“Katakanlah wahai Rasulullah, siapa yang berbahagia karena mendapat syafa’atmu pada hari kiamat kelak?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallammenjawab, “Wahai Abu Hurairah, aku merasa tidak ada yang bertanya kepadaku tentang hal ini selain engkau. Yang aku lihat, ini karena semangatmu mempelajari hadits. Yang berbahagia dengan syafa’atku pada hari kiamat nanti adalah yang mengucapkan laa ilaha illallah dengan ikhlas dalam hatinya.” (HR. Bukhari, no. 99)

Semoga bermanfaat. Marilah rajin mempelajari tauhid. Semoga keutamaan di atas kita dapati.



Referensi:
Syarh Tsalatsah Al-Ushul wa Adillatuhaa wa Al-Qawa’id Al-Arba’. Haytsam bin Muhammad Jamil Sarhan. Penerbit At-Taseel Al-Ilmi.
Taisir Al-‘Aziz Al-Hamid fii Syarh Kitab At-Tauhid. Cetakan kedua, Tahun 1429 H. Syaikh Sulaiman bin ‘Abdillah bin Muhammad bin ‘Abdil Wahhab. Penerbit Ash-Shumai’i.
Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.


Diselesaikan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 28 Syawal 1439 H

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

Sumber https://rumaysho.com/18082-tsalatsatul-ushul-pentingnya-belajar-tauhid.html

21/07/2019

Bismillah,
Semakin Belajar Semakin Rendah Hati.
Ustadz : Muhammad Nuzul Dzikri, Lc hafizhahulloh..

19/07/2019

Bismillah,
Tujuan Menuntut Ilmu.
Ustadz : Yazid bin Abdul Qadir Jawas hafizhohullah.

Address

Kavling Agraria No. 69 Durensawit Jakarta Timur
Jakarta
13440

Opening Hours

Monday 13:00 - 22:00
Tuesday 13:00 - 22:00
Wednesday 13:00 - 22:00
Thursday 13:00 - 22:00
Friday 13:00 - 22:00
Saturday 09:00 - 21:00

Telephone

+6281282341900

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Abbasy.al posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Abbasy.al:

Share