Seblak bunda jatibarang

Seblak bunda jatibarang Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Seblak bunda jatibarang, Cafe, Jalan Letnan Joni, Indramayu.

Jajanan khas bandung dengan rasa pedas
13K/seblak basis (baso+sosis)
12K/aneka mercon
16K/1toping (ceker, tulang, puyuh, seafood)
18K/2toping
21K/semua toping yg ada

🌿Banyak manusia berbicara tentang kebaikan, namun hatinya masih bernegosiasi… masih menghitung untung dan rugi… masih be...
06/05/2026

🌿Banyak manusia berbicara tentang kebaikan, namun hatinya masih bernegosiasi… masih menghitung untung dan rugi… masih bertanya, “aku dapat apa?” 🤲

Padahal ketulusan tidak pernah lahir dari perhitungan…
ia lahir dari kesadaran… dari pengenalan akan “Aku” yang sejati ✨

🍂

——————————————

Pahamilah… 🌾

Ketulusan bukan sekadar sikap baik…
ia adalah jalan tercepat menuju kesempurnaan hidup.

➡️ “Berkarya tanpa pamrih demi Aku.”


“Aku” di sini bukan ego kecilmu… bukan dirimu yg merasa punya…
melainkan “Aku” yang meliputi segalanya… yang hadir di mana²… 🕊️

Di situlah banyak manusia keliru…
mereka mengira hidup ini milik pribadi…
sehingga setiap tindakan selalu berpusat pada kepentingan diri.☝

Padahal ketika engkau berkarya hanya untuk dirimu…
kau akan lelah…
karena dunia ini tak pernah cukup untuk memuaskan ego 🌪️

🍂

——————————————

Dengarkan baik-baik… 🌊

Ketika engkau mulai berkarya sebagai persembahan…
bukan untuk dipuji… bukan untuk diakui…

Maka di situlah hatimu mulai ringan…
karena engkau tidak lagi membawa beban “harus mendapat sesuatu.”💜

Sering kali manusia tidak menyadari…
yang membuat hidup terasa berat bukan pekerjaannya…
⏩ tetapi pamrihnya…

👉 Ia ingin dihargai…
👉 ingin diakui…
👉 ingin dipandang benar…

Dan ketika itu tidak terpenuhi…
lahirlah kecewa… lahirlah benci… lahirlah perpecahan 🔥

🍂

——————————————

✅ Mengapa manusia mudah membenci?

Karena ia melihat perbedaan sebagai ancaman…
bukan sebagai bagian dari keutuhan.

Ia merasa kelompoknya paling benar…
yang lain salah… bahkan disesatkan…

Padahal…

➡️ “Aku ada di mana-mana.”

Maka ketahuilah ini… 🌿

ketika engkau membenci makhluk lain…
engkau sedang membenci tempat di mana “Aku” juga hadir. ☝

Di situlah ketulusan menjauh…
karena hati yang penuh kebencian tidak mungkin menjadi wadah kehadiran yang suci.🙏

🍂

——————————————

Maka… 🌱

Ketulusan itu bukan soal terlihat baik di luar…
tetapi soal bersih di dalam.

➡️ Engkau bisa membantu… tapi masih ingin dipuji…

➡️ engkau bisa memberi… tapi berharap dibalas…

Itu belum tulus…
👉 itu hanya transaksi halus yg dibungkus kebaikan 🎭

Ketulusan sejati adalah ketika engkau memberi…
dan bahkan lupa bahwa engkau pernah memberi.😌

🍂

——————————————

Dengarkan ini… 🌤️

👉 Ketulusan tidak akan pernah lahir…
selama manusia masih terjebak pada identitas sempit.

⏩ “Aku ini siapa… kelompokku apa… keyakinanku paling benar…”

Selama itu masih kuat…
❌ maka ketulusan hanya akan jadi slogan… bukan laku hidup.

Karena ketulusan hanya bisa muncul
ketika batas antara “aku” dan “yang lain” mulai luluh…

Begitu p**a kesadaran manusia… 🌊
ketika ia mulai melihat bahwa semua berasal dari sumber yang sama…
maka ia tidak lagi mudah membenci…🧘‍♀️

🍂

——————————————

🌺Jika engkau ingin hidup dalam ketulusan…

• Berkaryalah tanpa pamrih
• Bersahabatlah dengan siapa pun
• Kasihilah setiap makhluk
• Dan lepaskan kebencian sekecil apa pun

Bukan karena mereka pantas…
tetapi karena hatimu layak untuk bersih.❣️

🍂

——————————————

Jadi… 🌙

ketulusan bukan tentang dunia luar…
tetapi tentang kejernihan batinmu sendiri.

⏩ Dan di situlah rahasianya…

Semakin engkau tulus…
👉 semakin engkau dekat dengan “Aku”…

Dan semakin engkau dekat dengan “Aku”…
👉 semakin hilang alasan untuk membenci siapa pun.
..
🙏✨

❤ ❤

——————————————

Terima kasih kepada pengikut terbaru saya! Senang Anda bergabung! Surabanks Zyandra P Zyand, Yn Nurul
05/11/2025

Terima kasih kepada pengikut terbaru saya! Senang Anda bergabung! Surabanks Zyandra P Zyand, Yn Nurul

Lulus dari universitas adalah sebuah pencapaian, tapi bukan akhir dari segalanya. Kehidupan tak menanyakan ijazah, tapi ...
10/07/2025

Lulus dari universitas adalah sebuah pencapaian, tapi bukan akhir dari segalanya. Kehidupan tak menanyakan ijazah, tapi integritas. Dunia kerja tak selalu menguji teori, tapi mental dan moralitas.
Dan celakanya, tak sedikit orang yang menyandang gelar tinggi, tapi gagal dalam ujian-ujian dasar: jujur, adil, tanggung jawab.

1. Lulus Akademik ≠ Lulus Hidup
Banyak orang pintar secara teori, tapi terjebak dalam arogansi, malas berkembang, atau enggan berempati.

2. Cerdas Akademik ≠ Cerdas Emosional
Ada yang nilai IPK-nya sempurna, tapi tak mampu menjaga emosi saat diuji oleh orang tua, pasangan, atau atasan.

3. Pendidikan Formal ≠ Etika Sejati
Sekolah bisa mengajarkan definisi “kebenaran,” tapi kehidupan yang mengajarkan makna “keadilan” dan “kepedulian.”

Jangan bangga hanya karena titel di belakang nama.
Banggalah kalau kamu tetap jujur saat tergoda, tetap tenang saat dihina, dan tetap rendah hati saat sukses.

Karena kehidupan tidak menilai ijazahmu, tapi caramu bertahan dan tetap menjadi manusia.

😢 Dulu main bareng tiap hari, rebutan mainan, tidur pun sekasur. Tapi sekarang? Chat nggak dibalas. Ketemu pun cuma sali...
26/06/2025

😢 Dulu main bareng tiap hari, rebutan mainan, tidur pun sekasur. Tapi sekarang? Chat nggak dibalas. Ketemu pun cuma saling senyum basa-basi.

Hubungan saudara kandung itu unik. Bisa jadi sahabat, tapi juga bisa jadi orang yang paling menyakitkan.

Kenapa ya, makin dewasa malah makin jauh? Bahkan ada yang diam-diam menyimpan benci? Ini beberapa penyebab yang sering terjadi tanpa kita sadari:

🔸 Persaingan sejak kecil yang tak pernah diselesaikan.
– Dulu dibiasakan dibanding-bandingkan: siapa yang lebih pintar, lebih nurut, lebih sukses.

🔸 Orang tua tidak membentuk budaya komunikasi yang sehat.
– Jadi setiap konflik kecil, dibiarkan menumpuk dan meledak saat dewasa.

🔸 Masalah keuangan atau warisan.
– Saat uang masuk ke dalam relasi keluarga, ketulusan bisa berubah jadi perhitungan.

🔸 Ego dan gengsi.
– Sama-sama merasa benar. Tidak ada yang mau mulai duluan untuk merendah.

🔸 Perbedaan nilai hidup & gaya hidup.
– Dulu sama-sama di rumah, sekarang masing-masing punya jalan, pola pikir, dan prinsip sendiri.

🎯 Tapi, semua itu bisa diperbaiki.
Asal ada kemauan.
Asal mau ngobrol dari hati ke hati.
Asal sadar… bahwa waktu kita di dunia terbatas, dan saudara adalah bagian dari sejarah hidup kita yang tak tergantikan.

🫂 Tidak ada manusia sempurna. Tidak ada orang tua yg sempurna. Tidak ada saudara yg sempurna.

Manunggaling Kawula lan Gusti: Antara Sembah Raga lan Sembah RasaIng kawruh spiritual Jawa, ana sawijining puncak rasa k...
12/06/2025

Manunggaling Kawula lan Gusti: Antara Sembah Raga lan Sembah Rasa

Ing kawruh spiritual Jawa, ana sawijining puncak rasa kang suci lan ora bisa ditempuh kanthi akal piyambakan — yaiku manunggaling kawula lan Gusti. Piwulang iki dudu sekadar filsafat, nanging minangka pengalaman batin kang lembut, jero, lan sarwa sepi.

Gusti ing kéné ora mung dimangertèni minangka pribadi ing njaba, nanging Sumber Urip kang nresnani lan nyukupi sakèhing titah, kang sejatiné wis ana ing sajroning saben makhluk. Manunggal ora ateges nyawiji fisik, nanging nyawiji rasa, nyawiji roso, nyawiji urip.

Sembah Raga: Ngalap Saka Tindak, Tata, lan Tundhuk

Sembah raga minangka tangga sepisanan kang ngasilaké rasa dedonga, rasa sembah bebarengan karo badan. Iku kalebu:

Sembah bekti marang laku, aturan, unggah-ungguh.

Nyembah nganggo gerakan, tumindak kang resik.

Nglakoni laku kanthi puasa, tapa, lan tumindak utama.

Sembah raga iku medhar rasa syukur liwat jasmani, ngatur urip kanthi tata, disiplin, lan kesadaran lahiriah.

Nanging wong sepuh Jawa ora mung netepi laku lahir, amarga ana laku luwih jero…

Sembah Rasa: Ngrasakake Anané Gusti ing Sajroning Urip

Sembah rasa iku laku batin, kang ora katon, nanging krasa. Ora ana dhaharan khusus, ora ana ritual rumit. Nanging ana:

Eling lan waspada saben napas.

Ngrasakake pituduh Gusti saka rasa kang alus.

Sambung rasa marang alam lan sesami.

Iki sembah tanpa gerakan, sembah tanpa tembung. Sembah rasa punika ngresiki batin saka pamrih, mbukak krenteg jero kang nyambung karo Sumber Suci. Wong kang sembah rasa ora pamer, ora ngajari, nanging mung ana, lan saka "ana" kuwi, rahayu nyebar.

Manunggaling Kawula lan Gusti: Dudu Patemon, Nanging Eling

Manunggal ora digayuh kanthi nyepatani Gusti mlebu awak, nanging eling yen sejatiné Gusti tansah ana. Nalika manungsa bisa ngresiki rasa, nyandhak roso, lan ngilangi sekat-sekat ego, Gusti ora perlu digoleki: Gusti wis ana.

Kados pethuk banyu kali lan banyu banyu udan: loro pisan, nanging isih banyu. Gusti lan kawula ora pisah, mung kabut nepsu sing nglindhungi rasa manunggal kuwi.

> "Gusti ora adoh, ora cedhak. Anane ora bisa digambar, nanging bisa krasa. Nanging mung krasa nalika batin wis sepi saka pamrih."

Laku Sembah: Antara Ngayahi lan Ngrasakake

Urip kang nyambung karo Gusti ora mung urip kang rajin sembahyang, nanging urip kang eling lan waspada, tresna tanpa pamrih, narima tanpa protes, lan sepi ing pamrih rame ing gawe.

Sembah raga iku pondhasané. Sembah rasa iku puncaké. Yen kaloroné bisa dilakoni kanthi tulus, nalika kuwi manunggaling kawula lan Gusti ora mung dadi piwulang, nanging dadi kasunyatan batin kang ngreksa urip kanthi kawelasan.

𝗧𝗶𝗺 𝗗𝗼𝗸𝘁𝗲𝗿 𝗥𝗦𝗨𝗗 𝗜𝗻𝗱𝗿𝗮𝗺𝗮𝘆𝘂 𝗞𝗲𝗹𝘂𝗮𝗿𝗸𝗮𝗻 𝟳𝟬 𝗣𝗮𝗸𝘂 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗣𝗲𝗿𝘂𝘁 𝗪𝗮𝗿𝗴𝗮 𝗜𝗻𝗱𝗿𝗮𝗺𝗮𝘆𝘂Manusia juga banyak mewarnai dunia menjadi t...
04/06/2025

𝗧𝗶𝗺 𝗗𝗼𝗸𝘁𝗲𝗿 𝗥𝗦𝗨𝗗 𝗜𝗻𝗱𝗿𝗮𝗺𝗮𝘆𝘂 𝗞𝗲𝗹𝘂𝗮𝗿𝗸𝗮𝗻 𝟳𝟬 𝗣𝗮𝗸𝘂 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗣𝗲𝗿𝘂𝘁 𝗪𝗮𝗿𝗴𝗮 𝗜𝗻𝗱𝗿𝗮𝗺𝗮𝘆𝘂
Manusia juga banyak mewarnai dunia menjadi tak terduga. Itu juga yang dialami SH, laki-laki berusia 22 tahun asal Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu. Dia baru sadar bahwa di dalam perutnya tersimpan 70 paku, yang menjadi penyebab keluhan mual yang dialaminya.

SH hanyalah warga biasa dan tidak punya kemampuan debus yang kebal dan mampu menelan benda-benda tajam, seperti silet atau paku. Dia dan keluarganya juga tak tahu mengapa benda tajam itu bisa ada di dalam perutnya.

Tim dokter dari RSUD Indramayu akhirnya berhasil mengeluarkan ke-70 paku dari perut warga Indramayu terebut melalui sebuah operasi yang berlangsung hampir sekitar 2 jam di kamar bedah di RSUD Indramayu pada 25 Juni 2024.

Pengakuan dokter, meski di perutnya ada 70 paku namun tak sedikit pun bagian organ dalam seperti lambung dan ususnya yang mengalami luka atau lecet sekalipun. Kondisi bagian organ vitalnya itu baik-baik saja.

"Jadi waktu buka kulit dalam (lambung) itu bagus tidak ada luka. Paku diambil satu-satu dan lambung dibuka. Sampai selesai kita cek lagi tapi tidak ada luka,” tutur dokter bedah Rachmat Prayitno.

Bisikan Seorang Wanita Awal

Awal ditemukannya 70 paku di dalam perut, ketika SH mengalami keluhan mual, sesak napas, dan perut tidak nyaman.

Dia pun menjalani pemeriksaan di RSUD Indramayu pada 22 Juni 2024. Dokter yang menanganinya terkejut bukan main setelah hasil foto ronsen mendapati di dalam perut warga Desa Pabean Udik tersebut ada sebanyak 70 paku.

Tim dokter dari RSUD Indramayu akhirnya memutuskan untuk mengangkat ke-70 paku itu melalui tindakan operasi.

Operasi baru dilaksanakan pada 25 Juni 2024. Setelah operasi dilakukan selama hampir 2 jam, akhirnya sebanyak 70 paku tersebut berhasil dikeluarkan dari perut korban.

Dirut RSUD Indramayu, Deden Bonni Koswara memaparkan bahwa dari tindakan operasi tersebut diketahui bahwa 70 paku itu berukuran 4 hingga 7 cm. Kebanyakan dari paku-paku tersebut merupakan paku yang masih baru.

‘’Dari 70 paku itu, sebanyak 69 bersarang di lambung dan satu paku di usus halus,’’ ujar Deden.

Pihak keluarga SH tidak mengetahui anaknya tersebut s**a memakan paku. Namun akhirnya dari pengakuan SH, rupanya dia menelan paku-paku tersebut dalam kondisi tidak sadar.

"Kalau keluarga tidak ada yang tahu. Cuma pas ditanya ingat nggak ambil paku di mana? di tempat saudaranya. Sekarang dia ingat, tadinya nggak ingat," kata Dokter bedah RSUD Indramayu Rachmat Prayitno.

Menurut Deden Bonni Koswara, berdasarkan keterangan dari keluarga pasien, kebiasaan memakan benda asing, seperti jarum pentul dan jarum jahit, sudah dilakukan oleh SH sejak setahun terakhir. Pihak keluarga awalnya tidak mengetahui bahwa SH juga ternyata memakan paku.

Deden menjelaskan bahwa kebiasaan SH memakan jarum dan paku itu disebabkan oleh kondisi kejiwaannya yang menderita waham kebesaran atau delusi. SH merasa dirinya kebal sehingga mau saja waktu disuruh menelan paku.

‘’Menurut pengakuannya, dia disuruh oleh sosok perempuan. Katanya kamu sudah kebal, coba makan paku saja,’’ ujar Deden. ***
Sumber : Pikiranrakyat

"Hatiku Keras Karena Suaramu Terlalu Keras, Ma..."Namanya Alya.Usianya 6 tahun.Anak sulungku.Cerdas, kritis, dan… belaka...
31/05/2025

"Hatiku Keras Karena Suaramu Terlalu Keras, Ma..."

Namanya Alya.
Usianya 6 tahun.
Anak sulungku.
Cerdas, kritis, dan… belakangan ini, sangat keras kepala.

Aku dulu bangga karena dia berani menyampaikan pendapat.
Tapi akhir-akhir ini, sikapnya berubah.
Setiap dinasihati, dia membentak.
Setiap dilarang, dia ngambek, teriak, banting barang.

Aku mulai merasa… anak ini keras hati.

“Kenapa sih kamu sekarang susah banget dibilangin?”
“Kenapa kamu kayak gak punya hati?”
“Dulu kamu gak gitu, Alya…”

Dan suatu malam, dia menjawab dengan kalimat
yang bikin lututku lemas:

> “Hatiku keras karena suaramu selalu keras, Ma…”

Aku terdiam.
Rasanya seperti ditampar.

Dalam hati aku tahu,
selama ini aku terlalu sering memakai suara tinggi.
Terlalu cepat marah.
Terlalu ingin dia "segera menurut",
tanpa memeluk dulu perasaannya.

Aku ingat saat dia menumpahkan susu, aku bentak.
Saat dia salah mengeja, aku sindir.
Saat dia lambat pakai baju, aku paksa.
Dan semua itu aku lakukan dengan alasan: “Agar dia cepat paham.”

Padahal yang dia pahami justru sebaliknya:
Mama selalu marah.
Mama gak sayang.
Mama cuma tahu salahku.

Aku mulai belajar…
Untuk mendidik anak bukan dengan bentakan,
tapi dengan pelukan.

Bukan dengan kata “jangan” terus-menerus,
tapi dengan “aku percaya kamu bisa lebih baik.”

Malam itu aku dekati dia.
Kucium keningnya pelan.

> “Maafkan Mama ya, Nak…
Mama gak tahu kalau suara Mama bikin hatimu sakit…”

Dia hanya mengangguk pelan.
Air matanya jatuh.
Dan kami menangis bersama.

Esok harinya aku berubah.
Bukan langsung jadi sempurna.
Tapi aku belajar lebih sabar.

Saat dia menolak makan, aku ajak ngobrol dulu.
Saat dia salah, aku duduk sejajar,
tatap matanya, dan jelaskan pelan.

> “Kamu tahu kenapa Mama larang? Karena Mama sayang.”

Ternyata anak itu gak keras hati.
Dia hanya sedang membangun dinding untuk melindungi diri dari suara-suara yang terlalu keras.

Dan saat kita mengecilkan suara,
anak akan membuka hatinya lebih lebar.

Dulu aku berpikir anak harus patuh,
harus menurut, harus diam saat kita bicara.

Tapi aku lupa,
anak bukan robot.
Mereka punya rasa.
Dan mereka juga bisa terluka oleh kata-kata.

Untuk para orang tua di luar sana…
Jika anakmu mulai keras kepala,
jangan langsung menuduh hatinya keras.

Tanya dulu:

> “Sudahkah aku menyentuh hatinya sebelum menyuruhnya?”
“Sudahkah aku memeluk sebelum membentak?”
“Sudahkah aku menjadi tempat aman, bukan tekanan harian?”

Karena anak tidak butuh orang tua yang galak.
Anak butuh orang tua yang mengerti.

Dan untukmu, Alya…
Jika suatu hari kau dewasa dan membaca ini…
Terima kasih karena sudah jujur pada Mama.
Karena dari kalimat kecilmu itu,
Mama belajar menjadi besar.

> “Hatiku keras karena suaramu terlalu keras.”
Maka kini Mama akan belajar melembutkan suara,
agar hatimu tetap lembut, dan cintamu pada dunia tetap tumbuh.”





  AKHIR ZAMAN SYEKH ABDUL JALIL/SYEKH SITI JENAR "Jamane saiki jaman edan, okeh wong waras tapi kelakuane ngungkuli wong...
30/05/2025

AKHIR ZAMAN SYEKH ABDUL JALIL/SYEKH SITI JENAR

"Jamane saiki jaman edan, okeh wong waras tapi kelakuane ngungkuli wong edan, ngaku wong pinter mung gawene minteri liyan, ngaku nduwe ngelmu tingkat kasepuhan asline mung dolanan sulapan, iki tondo akhire jaman, wong gampang ngedol iman mergo mikir uman, yen wes kumanan mikire eman, qur'an kadis mung ge kudung lan lamis, kapir ngapirke liyan kui wes dadi tondo kapire dewe, moso bodo o sing penting nduwe jeneng lan jenang, kalal karom rano bedane, yen kalal kanggone dewe, yen karom tudingke koncone, agomo mung kanggo alat ben nutupi mripat, katon agung katon alim sejatine zolim, ragat gowo klambi sorban lan sitik setitik mocone dalil agomo, ben disawang apik ben wong okeh kintil lan percoyo, sing sesat kui wong liyo, awak dewe sing bener calone suwargo, suwargo ndonyo kang pesti ono, suwargo akherat opo digayuh biso, yen anggowo jenenge walisongo sajake katon bedani, wong nuswantoro kui gampang diapusi gampang dibodoni, kui tondo akhire jaman, okeh sing ngaku wali ngaku nabi ngaku gusti, mulo siro kabeh kudu eling lan waspodo, ugo nyekel iman islam iksan bakal slamet ono hera herune jaman."

Terjemahan :

"Jaman sekarang jaman gila, banyak orang sehat tapi perbuatannya melebihi orang gila, mengaku orang pandai cuma untuk membodohi orang lain, mengaku memiliki ilmu tingkat tinggi tapi sebenarnya hanya bermain sulap, ini tanda akhir dari jaman, orang mudah menjual iman karena hanya berpikir mendapat bagian, kalau sudah mendapatkannya hanya untuk dirinya sendiri, al quran hadist hanya buat kedok semata dan pura-pura dibicarakan, mengkafirkan orang lain sebenarnya itu tanda kafir dirinya sendiri, masa bodoh yang penting memiliki nama dan harta, halal haram sudah tidak ada bedanya, kalau halal buat dirinya sendiri, kalau haram ditunjukkan orang lain, agama cuma alat untuk menutup mata orang, agar terlihat terpandang terlihat alim/ soleh tapi sebenarnya zhalim, cukup memakai baju sorban dan sedikit-sedikit bacanya memakai dahlil agama, biar terlihat baik biar orang banyak jadi percaya mau jadi pengikutnya, yang sesat itu orang lain, dirinya sendiri paling benar calonnya masuk surga, surga dunia yang pastinya ada, surga di akhirat apa bisa dicapainya, kalau membawa nama para wali sembilan agar terlihat beda lain dari yang lain, orang nusantara ini mudah ditipu mudah dibodohi, itulah tanda akhir jaman, banyak yang mengaku dirinya wali,nabi bahkan tuhan, makanya kamu semua harus ingat dan waspada, serta berpegang iman, islam, berbuat kebaikan agar selamat dalam hiruk pikuknya jaman."

berat

Di tengah sesaknya ekonomi, saat harga-harga terus melambung dan penghasilan tetap merangkak pelan, tawaran uang ratusan...
11/05/2025

Di tengah sesaknya ekonomi, saat harga-harga terus melambung dan penghasilan tetap merangkak pelan, tawaran uang ratusan ribu rupiah terasa seperti udara segar bagi sebagian warga. Minimal warga akan mendapatkan 300 ribu per bulan, dan itu selama 12 bulan. Angka yang mungkin terdengar kecil bagi sebagian orang, tapi begitu berarti bagi mereka yang hidup dari hari ke hari.

Di sudut-sudut gang sempit dan lapak-lapak kecil, bisik-bisik tentang "uang cepat" mulai menyebar. Cukup mengunduh aplikasi World App sebagai tahapan awal. Setelah mengunduh aplikasi, mengisi data diri, seperti nama lengkap, alamat tempat tinggal, hingga nomor identitas kependudukan. Setelah terjadwal tinggal datang ke titik yang sudah ditentukan, duduk di depan alat bulat bernama Orb, lalu biarkan retina mata dipindai. Dalam hitungan menit, data diri yang tak bisa diganti seperti nomor ponsel atau password telah resmi berpindah tangan. Dan sebagai gantinya, uang ratusan ribu pun mengalir ke dompet digital mereka. Tak banyak yang tahu apa sebenarnya yang mereka serahkan. Tak banyak yang paham ke mana data itu akan dibawa. Yang mereka tahu, ada uang yang bisa dibawa p**ang hari itu juga.
Begitulah kenyataannya. Himpitan ekonomi membuat sebagian warga gelap mata. Tanpa berpikir panjang, warga menukar data paling sensitif yang dimiliki manusia, identitas biometrik yang tak tergantikan. Data yang jika jatuh ke tangan yang salah, bisa menjadi bom waktu di masa depan.

WorldID, nama program yang menawarkan “hadiah”, datang dengan kemasan yang tampak futuristik dan menjanjikan. Tapi, di balik gemerlap teknologi itu, tersimpan kekhawatiran yang jauh lebih besar: keamanan dan masa depan data pribadi bangsa ini. Pemerintah mulai turun tangan. Kominfo telah memblokir operasional WorldID untuk sementara waktu. Tapi apakah cukup? Apakah langkah ini datang tepat waktu setelah ribuan data mungkin sudah berpindah tangan? Bagaimana seharusnya kita menyikapinya?

Waspada dan Bijak. Jangan mudah tergoda dengan tawaran yang terlihat “instan dan mudah”. Apalagi jika itu menyangkut data diri yang bersifat permanen dan tidak bisa diganti. Pemerintah Harus Lebih Proaktif Edukasi tentang literasi digital dan keamanan data harus lebih masif, terutama di kalangan masyarakat bawah yang seringkali jadi sasaran empuk. Tanggung Jawab Platform Digital. Layanan seperti WorldID harus diawasi ketat dan diminta transparansi tentang bagaimana data warga digunakan dan diamankan.

Harus Peduli, Ini bukan hanya soal mereka yang butuh uang hari ini, tapi soal masa depan keamanan digital bangsa kita. Jangan biarkan masalah ini berlalu begitu saja, seolah tak ada yang terjadi. Kita semua patut prihatin. Bukan karena mereka bodoh. Bukan karena mereka tak peduli. Tapi karena kehidupan mereka terlalu berat, sampai-sampai mereka rela mempertaruhkan sesuatu yang seharusnya tak ternilai harganya.

Semoga ini jadi pelajaran. Bukan hanya untuk mereka yang sudah melakukannya, tapi untuk kita semua yang mungkin suatu saat akan dihadapkan pada godaan yang serupa.
---


Disclaimer:
Tulisan ini merupakan ulasan sederhana terkait fenomena bisnis atau industri untuk digunakan masyarakat umum sebagai bahan pelajaran atau renungan. Walaupun menggunakan berbagai referensi yang dapat dipercaya, tulisan ini bukan naskah akademik maupun karya jurnalistik.

~MBAH JUM~Mbah Jum seorang tuna netra yang berprofesi sebagai pedagang tempe. Setiap pagi beliau dibonceng cucunya ke pa...
21/02/2025

~MBAH JUM~

Mbah Jum seorang tuna netra yang berprofesi sebagai pedagang tempe. Setiap pagi beliau dibonceng cucunya ke pasar untuk berjualan tempe. Sesampainya dipasar tempe segera digelar. Sambil menunggu pembeli datang, disaat pedagang lain sibuk menghitung uang dan ngerumpi dengan sesama pedagang, mbah Jum selalu bersenandung sholawat. Cucunya meninggalkan mbah Jum sebentar, karena ia juga bekerja sebagai kuli panggul dipasar itu. Dua jam kemudian, cucunya datang kembali untuk mengantar simbahnya p**ang kerumah. Tidak sampai 2 jam dagangan tempe mbah Jum sudah habis ludes. Mbah Jum selalu p**ang paling awal dibanding pedagang lainnya. Sebelum p**ang mbah Jum selalu meminta cucunya menghitung uang hasil dagangannya dulu. Bila cucunya menyebut angka lebih dari 50 ribu rupiah, mbah Jum selalu minta cucunya mampir ke masjid untuk memasukkan uang lebihnya itu ke kotak amal.

Karena kata simbah modal simbah bikin tempe Cuma 20 ribu. Harusnya simbah paling banyak dapetnya yaa 50 ribu. Kalau sampai lebih berarti itu punyanya gusti Allah, harus dikembalikan lagi. Lha rumahnya gusti Allah kan di masjid, makanya kalau dapet lebih dari 50 ribu, simbah masukkin uang lebihnya ke masjid.”

Simbah itu tiap hari bawa tempenya ga pernah berubah-ubah jumlahnya sama. Tapi kenapa hasil penjualan simbah bisa berbeda-beda..

Kalau ada yang beli tempe sama simbah, karena simbah tidak bisa melihat, simbah selalu bilang, ambil sendiri kembaliannya. Tapi mereka para pembeli itu selalu bilang, uangnya pas kok mbah, ga ada kembalian. Padahal banyak dari mereka yang beli tempe 5 ribu, ngasih uang 20 ribu. Ada yang beli tempe 10 ribu ngasih uang 50 ribu. Dan mereka semua selalu bilang uangnya pas, ga ada kembalian. Pernah suatu hari simbah dapat uang 350 ribu. Yaaa 300rb nya ditaruh dikotak amal masjid.” Begitu penjelasan sang cucu.

Sampai rumah pukul 10:00 pagi beliau langsung masak untuk makan siang dan malam. Ternyata mbah Jum juga seorang tukang pijat bayi (begitulah orang dikampung itu menyebutnya). Jadi bila ada anak-anak yang dikeluhkan demam, batuk, pilek, rewel, kejang, diare, muntah-muntah dan lain-lain, biasanya orang tua mereka akan langsung mengantarkan ke rumah mbah Jum. Bahkan bukan hanya untuk pijat bayi dan anak-anak, mbah Jum juga bisa membantu pemulihan kesehatan bagi orang dewasa yang mengalami keseleo, memar, patah tulang, dan sejenisnya. Mbah Jum tidak pernah memberikan tarif untuk jasanya itu, padahal beliau bersedia diganggu 24 jam bila ada yang butuh pertolongannya. Bahkan bila ada yang memberikan imbalan untuk jasanya itu, ia selalu mas**an lagi 100% ke kotak amal masjid. Ya ! 100% !

Mbah Jum memberi penjelasan sambil tersenyum :
“Kulo niki sakjane mboten pinter mijet. Nek wonten sing seger waras mergo dipijet kaleh kulo, niku sanes kulo seng ndamel seger waras, niku kersane gusti Allah. Lha dadose mbayare mboten kaleh kulo, tapi kaleh gusti Allah.” (Saya itu sebenarnya nggak pinter mijit. Kalau ada yang sembuh karena saya pijit, itu bukan karena saya, tapi karena gusti Allah. Jadi bayarnya bukan sama saya, tapi sama gusti Allah).

Ternyata manusia yang datang dari peradaban kapitalis akan terkaget-kaget saat dihadapkan oleh peradaban sedekah tingkat tinggi macam ini. Dimana di era kapitalis orang sekarat saja masih bisa dijadikan lahan bisnis. Jangankan bicara GRATIS dengan menggunakan kartu BPJS saja sudah membuat beberapa oknum medis sinis.

Mbah Jum tinggal bersama 5 orang cucunya. Sebenarnya yang cucu kandung mbah Jum hanya satu, yaitu yang paling besar usia 20 tahun (laki-laki), yang selalu mengantar dan menemani mbah Jum berjualan tempe dipasar. 4 orang cucunya yang lain itu adalah anak-anak yatim piatu dari tetangganya yang dulu rumahnya kebakaran. Masing-masing mereka berumur 12 tahun (laki-laki), 10 tahun (laki-laki), 8 tahun (laki-laki) dan 7 tahun (perempuan).

Dikarenakan kondisinya yang tuna netra sejak lahir, membuat mbah Jum tidak bisa membaca dan menulis, namun ternyata ia hafal 30 juz Al-Quran. Subhanallah…!! Cucunya yang paling besar ternyata guru mengaji untuk anak-anak dikampung mereka. Ke-4 orang cucu-cucu angkatnya ternyata semuanya sudah qatam Al-Quran, bahkan 2 diantaranya sudah ada yang hafal 6 juz dan 2 juz.

“Kulo niki tiang kampong. Mboten saget ningali nopo-nopo ket bayi. Alhamdulillah kersane gusti Allah kulo diparingi berkah, saget apal Quran. Gusti Allah niku bener-bener adil kaleh kulo.” (saya ini orang kampong. Tidak bisa melihat apapun dari bayi. Alhamdulillah kehendak gusti Allah, saya diberi keberkahan, bisa hafal Al-Quran. Gusti Allah itu benar-benar adil sama saya).

Kisah ini bukan lah kisah seorang Ulama ataupun Waliyullah. Hanya kisah seorang perempuan biasa yg mampu membuat iri seluruh penghuni Alam.

 Cerite Dan Nasehat Sore...Sayang Kalau Tidak DiBaca...Sore itu, sabtu 21 september 2019 di halaman Mapolres Padang panj...
19/02/2025


Cerite Dan Nasehat Sore...
Sayang Kalau Tidak DiBaca...

Sore itu, sabtu 21 september 2019 di halaman Mapolres Padang panjang sedang di laksanakan upacara pisah kenal dari AKBP Cepi Noval S*K, kepada AKBP Sugeng Hariyadi. S.I.K., M.H.

Di tengah hikmad nya suasana upacara tiba tiba seorang gadis kecil penjual kue 'onde-onde' menyeruak masuk menembus barisan polisi.

Entah apa yang membuat anak kecil ini berani masuk dalam kerumunan banyak pejabat tinggi, dia langsung nyelonong menuju Pak Cepi Noval.

Suasana sedikit gaduh, namun para pengawal dan petugas membiarkan gadis kecil yang sedang membawa kue di atas kepalanya itu terus menuju arah Pak Cepi, rupanya mereka sudah kenal siapa gadis kecil itu.

Ketika keduanya sudah saling berdekatan, suasana hening namun juga tegang, semua menunggu apa yang akan terjadi, termasuk para wartawan dan jurnalis yang siap mengabadikan momen itu.

Tiba tiba ada air mata yang meleleh dari kedua mata gadis itu, dia menangis sedih. Entah darimana ia mendapat khabar bahwa Pak Cepi Noval akan meninggalkan Padang Panjang. Rupanya Kapolres karismatik itu adalah salah seorang pembeli kue onde ondeh-nya yang jika setiap bertemu akan selalu memborong habis dagangannya.

Kemudian Kapolres bersahaja itu memegang p**i sang gadis kecil seraya berkata, "Bapak pamit..., rajin belajar..., dan banyak sabar ya nak... Jangan takut ada Kapolres baru nanti beliau yang akan membeli kue mu". Pak Cepi yang gagah tak bisa menahan air matanya p**a😭😭😭

Sesaat kemudian Pak Cepi berdiri dari kursi, dia meminta micropon, sedikit menyalahi protokoler memang, kemudian melanjutkan kata katanya kepada semua orang yang hadir di situ.

"kalian lihat anak ini,dia hanya ingin bisa terus sekolah, jualan kue berangkat pagi buta, setelah itu dia sekolah dan siang hari kembali ia merajut mimpi dengan berjualan lagi" Suara Pak Cepi mulai serak, tersendat namun tetap menggelar. Semua terdiam dan tak sedikit yang matanya juga sebab terutama Ibu Ibu Bhayangkari.

"Setelah saya pergi saya harap kalian meneruskan tugas saya membeli dagangannya, kelak suatu saat saya akan kembali kesini untuk mengecek keadaannya, jika dia harus putus sekolah, maka kalian yang akan saya tuntut pertama kali di hari pengadilan kelak"! Lanjut Pak Cepi dengan perasaan yang sangat 'emosional'.

Kemudian Ia tak sanggup lagi meneruskan kata katanya, hingga tanggannya untuk kedua kali mengusap air mata di p**i si gadis kecil yang mengalir deras.

"kamu tidak akan kehilangan Bapak, mereka semua akan menjadi bapak bapak kamu, yang akan selalu menanti dagangan mu anakku".

Semua yang tadi berbaris rapi kini berhambur mengelilingi Pak Cepi, mereka berebut mengabadikan hal yang tak pernah mereka kira.

Selamat jalan Pak... Selamat bertugas di tempat baru, semoga masih ada Pak Cepi Pak Cepi lain, yang peduli dengan keadaan masyarakat, tidak hanya mengejar pangkat, tapi juga mengajarkan keteladanan.

Address

Jalan Letnan Joni
Indramayu
45273

Opening Hours

Monday 19:15 - 00:00
Tuesday 19:15 - 00:00
Wednesday 19:15 - 00:00
Thursday 19:15 - 00:00
Friday 19:15 - 00:00
Saturday 19:15 - 00:00

Telephone

+6287724256008

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Seblak bunda jatibarang posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category