02/06/2020
RANTANGAN, sebelum hari raya Idul Fitri diarayakan, tepatnya saat pertengahan bulan Ramadahan menjelang hari raya akan selalu dilakukan tradisi rantangan.
Rantangan, berasal dari kata Rantang atau wadah bertumpuk untuk makanan yang dikirimkan ke saudara-saudara dan tetangga terdekat. Hal ini dilakukan sebagai pengingat bahwa sedekah itu tetap dilakukan sebagai perwujudan doa untuk keselamatan dan kesejahteraan bagi keluarga yang merantangi.
Mereka khususnya, Ibu dan Nenek memaknai Rantangan ini sebagai berkah dengan bersedekah. Beda cerita dengan kami yang saat itu bertugas sebagai pengantarnya ke alamat-alamat yang sudah tertera di rantang-rantang berisi makanan tersebut.
Di medio tahun 90 an, kami senang sekali mendapati tugas itu, bagaimana tidak, karena kami pasti mendapatkan “Sangu” (istilah uang saku dalam bahasa Jawa). Sangu-sangu ini akan kami kumpulkan untuk persiapan hari raya Idul Fitri.
Kadang, kami berlomba-lomba mendapatkan giliran mengantarkan rantang karena Sangu tersebut (masa kecil memang tidak perlu tahu lebih banyak, karena dari ketidak tahuan banyak hal, kami cukup menikmati satu pilihan itu dengan banyak kebahagiaan). Dengan lebih rajin dan giat mengantarkan rantang-rantang tersebut meskipun diluar sana dalam kondisi hujan deras.
Lucu memang masa kecil saat itu, namun ada benarnya jika hari raya Idul Fitri versi kami adalah super meriah dan tak terlupakan setelahnya. Ibarat antara malam dan pagi benar-benar beda tipis di mata kami. Mungkin diluar sudah sepi, namun selama sayup-sayup suara mic menyala dan masih terdengar suara orang mengaji tadarus Alquran walaupu lirih, saat itu juga kami merasa sekeliling kami tetap hidup, dan kami terus berkeliaran bercanda dengan teman-teman.