27/08/2020
KAMPUNG TAMBAK TANJUNG PINANG & KENAPA HARUS KOPI TRADISIONAL TJAP ORANG TUA
Dari sinilah saya kepikiran untuk bikin kedai kopi tjap orang tua ide ini lahir setelah sekian lama berfikir bikin coffe shop yang mudah , secara penyajian mudah menjelaskan ke teman" soal kopi tradisional saya akan cerita sedikit tentang kampung saya ini .
Salah satu pusat bisnis di tanjung pinang jalan tambak, seperti umumnya kawasan bisnis, mayoritas penghuninya dari etnis tionghoa. Deretan pertokoan dari pangkal jalan hingga keujung jalan menjadi ciri khas kawasan ini, ada juga mushala dan taman kanak-kanak yang sudah berdiri puluhan tahun.
Kedua bangunan ini menjadi penanda,sebelum berkembang menjadi kawasan bisnis, disini pernah menjadi perkampungan. Kampung Tambak yang mayoritas penduduknya adalah Warga Melayu. Kampung tambak salah satu perkampungan awal di tanjung pinang selain kampung jawa, kampung bugis, kampung bukit, dan kampung cina (sekitaran jalan merdeka). Disini kampung inilah saya melihat menjadi pelaku sejarah menemani alm. Nenek saya berjualan kue setelah habis sholat subuh kami berjalan kaki menitipkan kue yang nenek saya bikin ke kedai demi kedai, saat itu tak dipikiran saya upah, karena saya hanya mau menemani nenek jualan sehabis menitipkan kue beliau mengajak saya untuk beli sarapan, atau kue disitu saya belajar kalau berjualan tak harus meninggikan produk kita,sesekali kita harus beli produk orang lain untuk saling menghidupi secara ekonomi,
Kenapa Kopi ??
Setelah habis mengantarkan kue nenek, saya dan nenek beli kopi disalah satu kedai kopi, nenek selalu bilang beli kopi di kedai ati , seorang tiongha yang fasih sekali bahasa melayu, kopinya dimasak, kopinya tak berabok (tanpa ada dedak kopi maksudnya ). Diikat pakai kantong yang talinya warna merah, kearifan lokal orang dulu berjualan tak hanya pikir soal untung / profit tapi mereka mengajarkan soal membangun peradaban bahwa berdagang bisa membangun jiwa persaudaraan walau berbeda etnis, karena itulah saya berfikir untuk membangun Kedai Kopi Tjap Orang Tua ini supaya generasi saya selanjutnya mengetauhi bahwa orang tua mereka dulu berdagang 80% hatinya untuk menyentuh tamu untuk datang kembali ke kedai