01/12/2017
Reuni Alumni 212,
*Forum Silaturahmi untuk Perdamaian*
oleh : Adib Zain, edited.
Saudara, saya ikut serta pada aksi damai dan shalat Jum'at pada 02 Desember 2016 ( 212 ) bukan karena Pilgub DKI, tapi karena ingin agar proses hukum terhadap pen*staan agama Islam yang dilakukan Ahok segera dituntaskan melalui proses peradilan. Kini setelah setahun berlalu, saya akan menyampaikan pandangan atas keinginan sebagian Alumni 212 berkumpul kembali di tempat yang sama, Mesjid Istiqlah dan Lapangan Silang Monas, Jakarta.
Kemerdekaan berserikat dan berkumpul dijamin oleh konstitusi negara kita, tidak boleh ada seorangpun yang menghalanginya. Untuk itu aparatur pemerintah seharusnya memberikan perlindungan atas kegiatan seperti ini dari upaya provokasi dan tindakan intimidasi terhadap kebebasan berekspresi anggota masyarakat sebagaimana yang akan dilakukan oleh Alumni 212 dengan damai.
Apalagi jika ada orang yang tidak hadir atau kalaupun hadir pada aksi 212 yang lalu namun tidak totalitas, apalagi bukan seorang Muslim, lalu tiba-tiba genit mencerca terhadap rencana Reuni 212 yang pertama ini. Saya kira tidak tepat, karena dia bukan bagian 212 dan tidak menjiwai perjuangan ini. Elok kiranya diam saja, karena ini hak orang lain untuk melakukan sesuatu untuk diri dan kump**annya.
Ibaratnya ada suporter sepak bola klub tentu atau penggemar band/artis idolanya mau mengadakan reuni, kita mengatakan bahwa itu tidak bermanfaat, bukan sekolah kok reuni. Apalagi menjadi paranoid, ini gerakan kelompok radikal, akan melakukan makar dan semua yang berbau politik anti pemerintah serta gerakan anti Pancasila dituduhkan kepada kegiatan reuni dan alumni 212. Mengertikah arti reuni, tahukah bahwa kami yang 7 juta hadir 212 dulu itu siapa?
Kami adalah orang yang terpanggil karena merasa kitab agamanya dihina, bukan akan melakukan sesuatu kejahatan sebagaimana mungkin ada dalam benak segelintir orang, kami hanya orang biasa, beragama Islam dan warga negara Indonesia. Kami tidak mewakili siapapun dan juga tidak digerakkan oleh apapun kecuali kecintaan kami kepada agama kami dan keinginan kami hidup berdampingan dengan damai di negara kami sendiri. Kita ingat Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla saja hadir, jadi apa yang salah dari pertemuan 212 saat itu dan reuninya kali ini.
Peristiwa besar, sayang media massa tertentu telah menjadi partisan, tidak berani menyiarkan suasana silaturahmi 212, yang sangat kuat terasa memasuki relung sumsum kami hingga saat ini, ditengah curahan hujan, bacaan salawat dan kumandang ayat dari kitab suci Al Qur'an, sungguh membuat kami rindu untuk bisa bertemu kembali, apalagi reuni kali ini bertepatan dengan peringatan Maulid ( Kelahiran/Natalnya ) Nabi dan Rasul kami, Muhammad SAW.
Apa dosa kami, sehingga keinginan mulia ini dicurigai sebagai sesuatu yang salah, kemudian ada yang memengaruhi opini agar Alumni 212 tidak hadir dan merusak agenda acara. Serta menuduh orang yang memfasilitasi acara ini akan menggiring Alumni 212 agar melakukan sesuai dengan keinginannya. Percayalah, kalau 7 juta yang hadir setahun lalu bermaksud melakukan gerakan 'people power' tidak ada yang dapat membendungnya.
Saya sebagai alumni, ingin memberi makna bahwa Reuni Alumni 212 yang pertama ini akan membawa pesan perdamaian kepada ummat Islam khususnya dan pesan agar seluruh manusia di bumi ini menghentikan pertikaian dan peperangan diseluruh medan konflik, karena telah membawa kesengsaraan, kehancuran sendi-sendi kehidupan dan kemanusiaan.
Reuni ini juga berarti menyatukan seluruh kekuatan ummat Islam dan bangsa Indonesia, agar tidak terjebak kedalam perpecahan yang dapat menuai perang saudara. Kita harus belajar dari bahaya dan kerusakan akibat perang di negara mayoritas muslim dan penindasan di negara minoritas muslim. Melalui reuni ini saya menyampaikan pesan : *hentikan permusuhan, hentikan peperangan dan mari kita wujudkan perdamaian abadi di seluruh dunia dan di bumi pertiwi yang kita cintai ini... ALLAHU AKBAR, MERDEKA!!!*
Bandung, 01 Desember 2017
*Salam Alumni 212*
Jika berkenan silakan dishare