16/09/2014
INDONESIA PROMOSI KOPI INDIKASI GEOGRAFIS KE EROPA
No. E.038/PEN/IX/2014
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Indonesia memperkenalkan kopi bersertifikasi Indikasi Geografis kepada pecinta kopi dari seluruh Eropa pada Dublin Coffee and Tea Festival yang diselenggarakan di Dublin, Irlandia tanggal 12-14 September 2014. Festival diselenggarakan oleh Specialty Coffee Association Europe (SCAE) dan Irish Food Service Suppliers Alliance (IFSA), diikuti oleh sekitar 70 pengusaha Eropa, roasters, outlet dan distributor, komunitas pecinta kopi, coffee bloggers, barista dan produsen mesin kopi serta dihadiri oleh sekitar 5000 pengunjung.
Partisipasi Indonesia dalam bentuk Stand “Indonesian Specialty Coffee” didukung oleh KBRI Brussel, Kementerian Perindustrian, Kementerian Pertanian, Pemerintah Kabupaten Bener Meria, Aceh, Pemerintah Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan, Pemerintah Kabupaten Ngada, NTT, Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG), dan KBRI London. Pada Festival yang juga merupakan pertama kalinya dalam sejarah di Dublin ini, Indonesia memperkenalkan kopi Arabika Gayo dari Aceh, kopi Arabika Java Preanger dari Jawa Barat, kopi Arabika Kintamani dari Bali, kopi Arabika Java Ijen Raung dari Jawa Timur, kopi Arabika Flores Bajawa dari NTT, dan kopi Arabika Toraja dari Sulawesi Selatan. Indonesia memiliki Indikasi Geografis terbanyak di dunia, oleh karena itu pemasaran harus terus dilakukan pada niche market.
Dubes RI untuk Belgia, Luksemburg dan Uni Eropa, Arif Havas Oegroseno, pada forum People’s Stage yang menghadirkan pembicara antara lain dari SCAE dan FairTrade, menyampaikan: “Indonesia adalah produsen kopi terbesar ketiga di dunia memiliki karakteristik wilayah penanaman kopi diatas tanah vulkanik, ketinggian di atas 1200 m dpl, kombinasi tanaman (kopi dengan tanaman lain), iklim dan warisan budaya yang berbeda dan telah dilindungi dengan sertifikasi indikasi geografis. Kopi Gayo, berbeda rasa dan pola penanaman dengan kopi Kintamani, Java Preanger ataupun Java Ijen Raung, namun kualitasnya sama-sama diatas rata-rata karena telah dilindungi dengan sertifikasi indikasi geografis.”
Saat ini Indonesia dan Uni Eropa telah melakukan beberapa kali pertemuan baik pada tingkat Menteri maupun teknis untuk membahas Perjanjian Indikasi Geografis. Melalui kesepakatan tersebut, kedua pihak akan membuat suatu sistem pengakuan khusus sehingga pendaftaran produk Indikasi Geografis tidak perlu dilakukan satu per satu.
Yang unik pada Festival kali ini adalah para petani dan perwakilan MPIG (Gayo, Java Preanger, Toraja, dan Bajawa) turut tampil di forum People’s Stage dan berbagi pengalaman serta passion mereka dalam menaman, merawat dan mengolah kopi sesuai kondisi tanah, iklim, ketinggian dan budaya masing-masing.
Kopi bersertifikasi indikasi geografis pada festival ini juga dijadikan materi untuk SCAE Brew School dimana para brewers menyajikan kopi tersebut dengan beberapa alat brewing yang berbeda dan memberi kesempatan pada para pengunjung untuk mencoba serta memberikan komentar mereka. Penanggungjawab kegiatan SCAR Brew School, Julia Murray menyatakan bahwa kopi Indonesia memperoleh penilaian ‘great coffee, strong and balance in many flavours, new to the brewing school’.
Selain sebagai ajang perkenalan kopi bersertifikat indikasi geografis, festival ini juga memberikan kesempatan bagi petani Indonesia untuk bertemu langsung dengan calon konsumen di Eropa umumnya dan Irlandia khususnya. Dubes RI Arif Havas Oegroseno mengajak para petani untuk bertemu dengan perusahaan kopi terkemuka Irlandia seperti Bewleys dan Java Republic dan mengenalkan langsung cita rasa kopi masing-masing daerah.
Stand “Indonesian Specialty Coffee” rata-rata dikunjungi oleh 400-500 pengunjung yang memberikan penilaian sangat positif terhadap kopi yang disajikan di stand serta antusias menyambut kehadiran kopi bersertfikasi indikasi geografis Indonesia di pasar Irlandia dan Eropa.
Stand “Indonesian Specialty Coffee” juga mendapat perhatian dari kalangan media baik radio maupun media cetak serta coffee bloggers yang secara antusias melakukan wawancara terhadap Dubes RI Arif Havas Oegroseno serta para petani dan perwakilan MPIG.
Keikutsertaan Indonesia ini membuka jalan untuk partisipasi Indonesia pada World of Coffee yang akan diselenggarakan oleh SCAE pada tahun 2016 di Dublin, Irlandia dan rencana kunjungan industri kopi Eropa ke Indonesia.
(Sumber: KBRI Brussel)