15/06/2025
Bissmillah, lewat Pak Gubernur belum ada tanggapan siapa tahu lewat Ibu Gubernur direspon
Surat Terbuka untuk Ibu Gubernur Nusa Tenggara Barat, Ibu Sinta Agatia 🙏🏾
Kepada Yth. Ibu Gubernur Nusa Tenggara Barat,
Salam hormat dari kami, warganet yang masih percaya bahwa tradisi bisa dijaga tanpa harus menggadaikan nilai.
Ibu, izinkan kami menyampaikan sepenggal kegelisahan yang barangkali sudah terlalu lama kami telan diam-diam. Di balik gegap gempita hiburan rakyat, di antara tepuk tangan penonton yang ramai, ada satu hal yang terasa makin mengganggu: tarian anco-anco dalam saweran musik tradisional Kecimol dan Ale-Ale.
Tarian itu, yang disebut hiburan oleh sebagian, kini telah menjelma jadi tontonan er0tis yang dipertontonkan bebas, bahkan di depan anak-anak. Penari perempuan didekap, dilempari uang, diiringi goyangan yang jelas bukan sekadar "goyang budaya" menempelkan bagian badan, tidak sen0noh! Lalu video-videonya dengan bangga dibagikan di sosial media lengkap dengan komentar c4bul disambut like dan views ribuan bahkan jutaan.
Ibu Gubernur, kami sadar tidak semua warisan budaya harus dibungkus nostalgia. Ada yang perlu disaring, disusun ulang, bahkan dibatasi. Tradisi bukan alasan untuk membenarkan tontonan yang merusak nalar generasi.
Belakangan, kasus pernikahan dini, pelec3han s3ksual, keker4san terhadap perempuan, makin sering terdengar seperti kabar biasa. Apakah kita akan terus diam, sambil menyaksikan anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang permisif terhadap tubuh perempuan yang dieksploitasi atas nama seni? Atau kita cuek melihat tubuh-tubuh perempuan tak berharga ditukar dengan saweran online sambil ngelive?
Kami tidak ingin NTB dikenal lewat viralnya tarian er0tis. Kami ingin NTB dikenal karena martabat dan keberanian pemimpinnya menjaga batas moral.
Maka kami memohon, Ibu Gubernur yang terhormat, jangan biarkan kelonggaran ini tumbuh jadi kelaziman. Jangan biarkan budaya kita diperk0sa oleh pembiaran.
Kami tidak membenci seni. Kami hanya ingin seni yang mendidik, bukan membiarkan.
Kami percaya, suara perempuan tak hanya untuk menyanyi dan menari, tubuh mereka juga bukan tontonan, tapi juga untuk menyampaikan keberatan, ketika tubuh perempuan dijadikan pusat dan tatapan.
Semoga Ibu hadir, tak sekadar menonton dari jauh, tapi juga memutuskan dari dekat.
Hormat kami,
Warganet yang masih mencintai NTB dengan akal dan nurani: HAI LOTIM