14/03/2021
Memasuki pandemi tahun 2020 hingga awal tahun 2021 ini kita menjumpai sejumlah BRAND besar merubah desain LOGOnya.
Perubahan ini secara umum memiliki satu kesamaan. Menjadi lebih sederhana. Dengan menghilangkan beberapa detail yang dianggap tidak perlu.
Perubahan logo paling akhir dilakukan oleh BURGER KING dianggap cukup fenomenal, karena kesannya retro, menyerupai logo yang pernah dipakainya beberapa tahun silam. Apakah perubahan logo ini memiliki tujuan strategis BRAND tertentu atau semata hanya masalah estetis saja?
Jika kita bicara BRAND maka LOGO tak ubahnya wajah bagi manusia. Logo merupakan TRIGGER untuk membedakan Brand satu dengan Brand lainnya, juga menjadi asosiasi terhadap persepsi tertentu yang dimiliki oleh BRAND di dalam benak audiens.
Brand - brand tersebut merubah logonya menjadi lebih sederhana mungkin karena kini persaingan antar Brand tak lagi terjadi di media-media BROADCAST seperti TV, BILLBOARD dan sejenisnya. Namun memasuki ranah media yang lebih privat, di HP para audiens.
Kini Brand-brand besar berlomba menyapa audiens melalui media sosial. Memberikan ENGAGEMENT virtual, menggantikan ENGAGEMENT fisikal yang terenggut akibat pandemi.
Tentu saja pada media yang ruang pandangnya lebih kecil, detail seperti shading dan outline tak lagi memberi dampak signifikan, bahkan bisa jadi malah mengganngu keseluruhan PERWAJAHAN LOGO. Sehingga menjadi SIMPLE tapi tetap mewakili IMAGE BRAND adalah sebuah keputusan yang bijak di era persaingan yang mulai berubah landscape nya ini.