28/05/2025
Beberapa waktu terakhir, lini masa di salah satu media sosial dipenuhi dengan opini tentang tempat makan yang dianggap overrated — tidak sesuai ekspektasi, tidak sebanding dengan harga, bahkan ada yang kecewa karena hanya ikut-ikutan tren. Sebagai pelaku usaha di dunia kuliner, kami memahami betul bagaimana ekspektasi itu bisa menjadi dua sisi mata pisau. Di satu sisi, ia memberi semangat untuk terus berkembang. Tapi di sisi lain, bisa melukai jika tak dilihat dari kacamata proses.
Karena membangun usaha kuliner tidak pernah mudah.
Di balik sebuah makanan atau minuman yang tersaji di meja, ada banyak cerita yang jarang terlihat:
Mulai dari memilih bahan baku terbaik, uji coba resep berulang kali, memastikan setiap tim di dapur paham rasa, sampai kontrol kualitas yang kami lakukan setiap hari. Semua dilakukan agar apa yang kamu cicipi hari ini, sama dengan yang kamu nikmati minggu lalu, atau yang kamu dengar dari cerita teman.
Kami percaya, konsistensi bukan sekadar menjaga rasa — tapi juga menjaga kepercayaan.
Namun kami juga sadar, tak semua berjalan selalu mulus. Kami bukan tempat yang sempurna. Kadang kami khilaf pada detail, kadang harapan pelanggan lebih tinggi dari yang kami duga. Dan saat itu terjadi, satu hal yang kami harapkan hanyalah: suarakan langsung pada kami.
Sampaikan lewat pesan atau obrolan langsung kepada kami. Karena kritik yang sampai ke telinga pemilik, jauh lebih berguna daripada kritik yang tenggelam di ruang maya yang sunyi dan bias.
Dan jika pada akhirnya ada yang masih belum puas, kami tak menutup diri. Tapi izinkan kami terus mencoba. Karena bagi kami, rasa bukan tentang sempurna di awal — tapi tentang perbaikan yang tak pernah henti.