06/04/2020
Para ahli sudah menjelaskan bahwa virus corona dapat diminimalisir penyebarannya jika kita mengurangi interaksi dan mobilitas. Oleh karena itu, dibuatlah himbauan agar kita tinggal di rumah dalam jangka waktu tertentu. Jika saja gerakan ini dapat dilakukan secara serentak, diharapkan serangan virus ini dapat ditanggulangi dengan cepat.
Dengan tinggal di rumah, maka pemerintah lebih mudah melakukan pengontrolan. Jika ada yang terindikasi positif, langsung ditangani di UGD. Sementara itu, keluarganya diperiksa, begitu juga dengan tetangga kanan kirinya. Jika hasilnya negatif, mereka hanya perlu mengisolasi diri selama sekitar 14 hari. Jika mereka dapat melalui masa 14 hari dengan sehat, maka in syaa Allah mereka bersih. .
Masalahnya, kita ini bangsa yang besar. Wilayahnya sangat luas. Penduduknya sangat banyak dan pintar-pintar. Lazimnya orang pintar, mereka tidak mudah didikte. Ketika datang suatu instruksi, maka mereka skeptis dulu. Lalu, membangun hipotesa dulu. Jika penalarannya cocok, instruksi akan didengar. Jika tidak, ya nanti dulu. Itulah kenapa, himbauan tinggal di rumah tak serta merta dilaksanakan. .
Ketika sebagian wilayah melakukan karantina, sementara wilayah yang lain tidak, bahkan menganggap sepele corona, maka gerakan tinggal di rumah menjadi kurang nendang hasilnya. Sebab, virus masih bergentayangan di luar bersama induk semangnya yang kelayapan. Penyebarannya sulit dikendalikan. Karena hasilnya belum optimal, akhirnya himbauan tinggal di rumah pun diperpanjang. Walhasil, yang mestinya bisa segera ngarit, mesti menunda dulu sampai masa isolasi benar-benar selesai.
Maka, efektif atau tidak, cepat atau lambat penanganan virus ini bukan hanya tergantung pemerintah. Tapi, kita semua. Kita mesti satu persepsi, lalu melakukan penanggulangan bersama-sama dengan mengikuti saran para ahli. Jika itu sudah dilakukan, mudah-mudahan pandemi ini segera usai. Kita bisa akhiri isolasi, dan bisa ngarit seperti sedia kala lagi.
Wallahu a'lam.
Edited: ©OrangGayo